SUP -- ANAK BANGSA DAN PILKADA

Author : Pdt Bigman Sirait | Tue, 21 February 2017 - 14:06 | View : 262
pilkada-tulang-bawang-barat-2017.jpg

PILKADA DKI rasa PilPres, semakin terasa dan aromanya terus menggoda. Ya menggoda rasa ingin tahu kebenaran berita yang berseliweran, yang semakin kencang mendekati waktunya. Tapi sangat penting anda untuk tak tergoda dan ikut menjadi bumbunya. Sebaliknya ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan kelas kita sebagai anak bangsa. Belajar politik secara cuma-cuma tanpa harus mendaftar di universitas ternama. Ya, jika diikuti dengan teliti panggung ini menjadi pembelajaran yang lengkap dengan alat peraga yang serba canggih. “Sangat berkelas”.

Nikmati Menu: #SUP - GUGAT, MENGGUGAT

Dimulai dari diterdakwakannya calon gubernur Basuki Tjahya Purnama yang juga adalah petahana gubernur DKI. Sidang demi sidang sangat menarik diikuti jauh melebihi sidang Jesica dalam kasus yang dikenal dengan kopi maut sianida. Berjalannya sidang tak hanya ramai diruang pengadilan, atau demo masa pro dan kotra diluar sidang, tapi jauh lebih ramai lagi di dunia maya, medsos. Tak hanya DKI, dari luar provinsi ini juga ikut terlibat sekalipun bukan peserta Pilkada DKI. Luar biasa kan. Semua berjalan bersahutan, seakan ada dirigen yang punya kemampuan besar. Celakanya, makin hari isu ini makin sulit dibantah. Tak hanya warga DKI, tapi seluruh rakyat Indonesia mengikuti berita di media dan terbuka mata yang tentu saja dengan berbagai tafsir. Walaupun apa yang disebut tafsir bersifat relatif tapi bisa jadi mutlak bagi yang menyakininya. Nah, disinilah pelajaran pertama, menafsir berdasarkan data dan fakta yang teruji bukan dengan perasasaan apalagi kegalauan. Jadilah anak bangsa yang bertindak nyata menjaga semangat Bhineka Tunggal Ika, bukan hanya dalam kata-kata.

Nikmati Menu: #SUP PANGGUNG AHOK

Di sisi lain kita belajar, terbaca berdasarkan data dan fakta keinginan agar calon nomor dua Ahok yang dituduh menista agama, supaya dipenjarakan, dan ujungnya adalah tidak ikut Pilkada. Keinginan ini tak terwujud, namun elektabilitas Ahok sempat anjlok. Kampanye dan debat antar calon terus berlanjut tetap dengan tiga calon. Apa dinyana, calon nomor dua berhasil membuktikan kemampuannya dan debat berbuah lebat, elektabilitas naik dipenghujung Januari bahkan dipuncak menurut Populi Centre dan Charta Politika. Memang ada berbagai hasil lain menurut berbagai lembaga survey, jadi harus bijak menyikapi. Yang diperlukan, anda tak boleh membusungkan dada dan akhirnya menjadi lengah, karena sejatinya hasil Pilkada ditentukan Rabu 15 Februari 2017, di tempat pemungutan suara, bukan di lembaga survey.

Nikmati Menu: #SUP --TAK BERAGAMA

Sementara itu suasana politik di DKI terus meninggi, berbagai isu beredar seakan Pilkada DKI tak akan aman. Beredar juga isu demo besar-besaran di minggu tenang, bahkan waktu Pilkada yaitu 12 dan 15 Februari. Target isu ini jelas agar sebagian warga menjadi takut dan pergi keluar DKI. Dan jelas, mereka tak akan ikut memakai hak nya untuk memilih. Akibat yang pasti menurunnya jumlah pemilih, dan ada calon yang akan kehilangan suara. Terhadap isu potensi kericuhan ini pemerintah memberikan penjelasan yang sangat jelas bahwa tidak boleh ada demo di minggu tenang yang berkaitan dengan Pilkada. Lengkap dari Menkopolhukam, Panglima TNI, dan Kapolri, sudah mengumumkannya secara resmi. Karena itu, sebagai anak bangsa kita harus bersikap bijak dan bertanggungjawab pada perjalanan sejarah bangsa tercinta. Bersama kita ke TPS menentukan pilihan sebagai tanggungjawab demokratis anak bangsa. Anda mau pilih calon yang mana, itu hak pribadi yang dijamin UU. Tapi pergi keluar kota ketika Pilkada itu sangat disayangkan. Ingat Amerika.

Nikmati Menu: NGE #SUP BARENG AHOK

Ada apa dengan pemilu di Amerika? Dua calon presiden Amerika yang maju dianggap penuh dengan kekurangan, sehingga sebagian rakyat merasa seperti diperhadapkan harus memilih satu dari yang terjelek, dan akhirnya memilih untuk tidak ikut memilih. Situasi politik seperti ini selalu mewarnai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tak selalu punya calon yang baik, apalagi jika itu menyangkut selera. Ada yang bagus kepemimpinan dan integritasnya, tapi kita tidak suka penampilannya. Tapi ada juga yang menarik orangnya tapi tak jelas kepemimpinannya. Suka atau tidak kita harus membuat pilihan yang paling rasional bukan sekedar selera. Tak memilih bukan berarti anda berhasil mencegah, namun harus menerima apapun hasilnya. Di Amerika banyak yang tak suka dengan Trump, yang tak ikut memilih hanya bisa menyesali. Tapi pemilu sudah berjalan dan hasilnya sesuai UU bukan selera diri. Perlu sikap dewasa untuk hidup bertanggungjawab sebagai anak bangsa. Menang atau kalah itu biasa, tapi berjuang mewujudkan tanggungjawab sebagai anak bangsa, itu keharusan.

Nikmati Menu: #SUP -- TAHUN BARU, INDONESIA BARU

Mari jadi anak bangsa yang berkontribusi nyata tak hanya sekedar melipat tangan berdoa namun tidak berbuat apa-apa. Ora Et labora, berdoa dan bekerja itulah semangat sejati orang percaya. Ayo berlatih berbeda tanpa harus marah-marah, hadir damai ditengah keributan yang ada, sehingga keberadaan kita menjadi penyejuk hati dalam hidup membangun kebhinekaan Indonesia tercinta.

Selamat berada di Jakarta, Rabu 15 Februari 2017 yang juga hari libur resmi, pergi ke tempat pemungutan suara, tentukan pilihan anda, dan ikuti hasilnya. Kalo semuanya sudah selesai, silahkan menikmati kembali #SUP yang masih akan disuguhkan. #SUP yang ini dihabiskan saja ya, jangan sungkan untuk tambah.

Selamat hari demokrasi dengan berpartisipasi di Pilkada DKI sebagai anak bangsa.

See Also

jQuery Slider
Top