Merindukan Perubahan

Author : Pdt Bigman Sirait | Wed, 11 March 2015 - 17:23 | View : 2191

PERUBAHAN, adalah kata yang disukai.  Namun tentu saja perubahan menuju arah yang lebih baik. Semua orang ingin hidup yang lebih sejahtera dari sebelumnya. Inilah perubahan yang diharapkan. Hidup ini bergerak dari sebuah perubahan kepada perubahan. Tidak ada yang tidak berubah dikolong langit ini, semua bergerak dinamis. Hanya satu yang tidak berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Perubahan terus ada, sama, membuat perubahan yang tiada henti dari waktu ke waktu. Dalam perjalanan perubahan, kita perlu kehati-hatian agar tak terjebak di sana. Perubahan jaman terjadi, tapi bisa jadi kita tak berubah secara kualitas, kecuali semakin menua ditelan waktu.


Rasul Paulus berkata kepada jemaat di Roma; Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Inilah perubahan Kristiani, di mana waktu dipakai sebagai alat ukur. Berubah menjadi semakin berkualitas dalam kehidupan ini, bukan sekedar hidup berkuantitas. Semangat perubahan yang tidak boleh salah arah.


Tahun datang silih berganti dan kita semakin menua dalam usia. Tak bisa mencegah peristiwa yang akan datang, apalagi mengubah masa lalu.  Semua yang lalu menjadi kenangan, sementara yang di depan menjadi harapan. Akankah semua menjadi perubahan menuju yang lebih baik? Kita harus menjalani pertandingan kehidupan.   Berjalan di ketidakpastian dunia, menuju kepastian di dalam Tuhan. Berhati-hati memakai waktu, dan mencermati dengan teliti tiap peristiwa di sekitar diri. Hasil pembaharuan harus nyata terlihat, terasa, terukur, dan teruji.


Berubahlah oleh pembaruan budi, menunjuk kepada proses pertumbuhan iman orang percaya dalam pertolongan Roh Tuhan.  Pembaruan budi menjadi proses yang melahirkan perubahan. Roh Kudus akan memberi tiap pribadi kekuatan untuk terus menerus berubah ke arah yang semestinya. Tidak ada proses pembaruan tanpa pertolongan Roh Kudus. Dan, tidak ada sebuah perubahan tanpa proses pembaruan. Pembaruan di dalam kehidupan melahirkan perubahan di keseharian.  Semua proses berjalan karena DIA, dan untuk kemuliaan nama-NYA.


Perubahan oleh pembaruan budi memiliki arah yang pasti, yaitu kemampuan membedakan antara kehendak Allah dan godaan setan. Tak sekedar mengenali yang benar dan yang salah, tapi juga kemampuan untuk menghidupi yang benar. Dari satu tindakan benar kepada tindakan benar berikutnya akan membentuk keunggulan hidup orang percaya. Perubahan kualitas hidup ini akan membawa orang percaya meraih kesuksesan dalam mengukir prestasi. Keberhasilan yang terhormat selalu lahir dari pribadi yang berintegritas.  Keberhasilan ini akan jadi insprisasi bagi banyak orang di sekitarnya, membuat orang percaya menjadi garam dan terang dunia. Dari pembaharuan kepada pembaharuan, manusia terus menerus belajar memahami apa yang baik, yang menjadi kehendak Allah. 

Pemahaman ini harus menjadi kerinduan orang percaya untuk mengaktualisasinya.  Inilah tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu hidup sesuai kehendak Allah.  Dalam proses perjalanan keimanan, progresnya harus tampak nyata sebagai kesaksian yang tidak terbantah. Memimpin orang percaya hidup berkenan kepada Allah. Hidup yang sempurna.  Bukan sempurna secara kuantitatif, karena itu memang bukan tujuannya. Tetapi sempurna secara kualitatif, seperti janda miskin dengan persembahannya. Secara kuantitaif, jelas dia seorang yang miskin, seorang janda, gambaran keluarga yang tak sempurna.  Namun secara kualitatif, dia mendapat pujian dari Tuhan Yesus Kristus.  Semua kita sebagai orang percaya harus masuk dan bertanding dalam menuju kesempurnaan hidup.

Perubahan kauntitatif adalah buah perubahan kualitatif, ini merupakan sebab akibat. Roh Kudus akan menolong kita dalam pembaharuan budi, jika semua berjalan dalam ketulusan hati.  Ingat kisah Ananias dan Safira yang justru mati karena persembahan yang mereka berikan. Bukan jumlahnya yang separuh dari hartanya (lima puluh persen), tapi ketidaktulusannya.  Jumlahnya sangat besar, melebihi persepuluhan, namun tak berkenan bagi Tuhan, karena mereka mengklaim memberi semuanya. Tuhan tak tertarik pada jumlah persembahan, tapi sikap hati yang memberikan. Nilai yang sangat berbeda dengan dunia ini, yang selalu mengutamakan angka materi ketimbang sikap hati. Ananias dan Safira masih hidup dalam nilai lama, tidak berubah, karena tidak ada pembaharuan dalam hidupnya.


Merindukan perubahan adalah kegairahan hidup yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Tahun demi tahun berganti, usia, karier, harta, status, terus berubah.  Harapannya tentu semakin hari semakin baik.  Ini perubahan kuantitatif.  Namun yang menjadi pertanyaan, apakah perubahan kualitatif di kehidupan semakin nyata?  Karena itu, kita perlu mengaudit perjalanan kehidupan, dan mengevaluasi ke arah mana kita melangkah.  Siapa tahu langkah cepat kita ternyata salah arah.  Itu berbahaya! Cepat, namun bukan menyelamatkan, tapi sebaliknya, justru membinasakan. Tapi, bisa jadi langkah terasa lambat, namun berubah ke arah yang benar, ini lebih baik.  Alangkah indahnya, jika kita bisa berubah lebih cepat ke arah yang benar, inilah cita-cita mulia. Perjalanan dunia masa kini adalah kebebasan. Tidak rela terikat dengan apapun, termasuk dengan Alkitab. Hidup ini milikku, aku punya hak sepenuhnya bagaimana menggunakannya. Norma-norma kehidupan ditabrak, hidup egois dan memuaskan hawa nafsu yang tidak pernah kunjung usai. Menjadi hamba uang, dan cinta untuk diri.  Abai pada sesama, itulah semangat yang berkembang. Manusia semakin menggila, dan hidup membelakangi Firman Allah. Tarikannya sangat kuat, tidak sedikit umat yang tak berdaya melawannya, bahkan sebaliknya, hidup di dalamnya.  Dalih; Ini memang jamannya, dijadikan pembenaran diri. Dan, kalau pun hidup berbuat baik, semua berpusat pada puji diri. Berubahlah, dan berbedalah dengan dunia.  Atau sebaliknya, semakin hari semakin sama dengan dunia? Ini patut kita renungkan, dan memeriksa posisi diri!


Tahun baru tiba, apakah hidup baru mengikutinya? Di pergantian tahun wajib bagi kita menganalisa diri, dan berani mengkoreksinya. Jika arah salah, segera perbaiki. Jika sudah tepat, tingkatkan terus tiada henti.  Inilah hidup yang harus dijalani.  Pembaharuan harus terus menerus dilakoni,  untuk melahirkan perubahan demi perubahan.  Semakin hari semakin menjadi seperti Allah. Ah, indahnya. Perjalanan hidup menuju hidup yang diperkenan Allah. Pribadi maupun bersama, kita wajib saling mengingatkan. Itulah gereja Tuhan. Selamat tahun baru, selamat hidup yang diperbaharui, yang tampak dalam perubahan kehidupan yang semakin berkualitas. Semakin hari semakin menyerupai Kristus. Kiranya, perubahan tahun menyemangati kita untuk terus bekerja keras mewarnai dunia. Berlomba dengan waktu adalah fakta yang tidak terbantah. Selamat menjadi pelaku, bukan hanya penonton. Selamat berubah oleh pembaharuan budi, bukan hanya merindukannya.

See Also

jQuery Slider
Top