SAYAPANCASILA (SERI 3)

Tue, 31 October 2017 - 16:06 | View : 18

#SAYAPANCASILA (SERI 3)

PANCASILA sebagai pandangan hidup berbangsa sejatinya membuat anak bangsa tak saling mencurigai apalagi terpecah. Karena dengan terang benderang mudah dibaca dan dipahami oleh siapapun, betapa Pancasila membuat kita terikat sebagai anak bangsa dalam kepelbagaian suku, ras, agama. Namun juga tak bisa dipungkiri bahwa selalu ada orang-orang yang menyebut Pancasila tapi justru untuk menumbuhkan bahkan menyuburkan kecemburuan sosial. Keberhasilan sekelompok orang sebagai pribadi seringkali diindetifikasikan sebagai kelompok sebuah suku, ras, dan agama, dan dibumbui sebagai dekat dengan pemerintah. Sebuah logika berpikir yang asburd, tapi ampuh ditengah rasa frustasi sosial yang “dipelihara” oleh orang-orang yang berkepentingan. Ini juga ancaman nyata bagi prinsip hidup Pancasila.

#SAYAPANCASILA (SERI 2)

         Keberhasilan yang menghasilkan kekayaan, kekuasaan, dan kuatnya jaringan bisnis sejatinya adalah buah usaha kerja keras siapapun juga, sebagai pribadi. Itu sebab dikolong langit ini selalu ada milyader dari berbagai latar belakang agama bahkan yang atheis sekalipun. Begitu juga dari perspektif suku atau ras. Sungguh amat sangat naif dan buta karena cemburu, atau jahat karena menebar fitnah busuk, jika anda berkata bahwa semua orang kaya di Arab Saudi adalah orang yang beragama Islam. Padahal ini lumrah dan sangat pantas seturut dengan sejarah Kerajaan di Arab Saudi. Menjadi amat sangat aneh jika anda ingin jadi Raja sekalipun tak memiliki garis keluarga, dan juga ingin menjadi paling kaya di Saudi. Jangan cemburu apalagi memfitnah lewat kemiskinan saudara bahwa orang lain tidak adil. Sebaliknya di RRC, bukankah wajar seorang Budha kaya raya disana. Apakah itu salah hanya karena berbeda agama dengan kita. Lalu dinegara komunis yang terkaya itu atheis, apakah anda akan marah dan menyebutnya tidak adil. Di barat banyak orang kayanya beragama Kristen. Betapa bodohnya dan pengecutnya kita karena hanya berani mempersalahkan orang lain atas keberhasilannya, dan bukannya mengkoreksi diri atas kesalahan sendiri. Atau atas etos kerja kita yang lemah!

#SAYAPANCASILA (SERI 1)

         Di Indonesia orang Tionghoa banyak yang jadi milyader, ini sangat lumrah. Peluang mereka menjadi PNS, atau politisi, sangat sempit di waktu lampau, sehingga secara turun temurun memilih berdagang. Dan pedagang yang bekerja keras sangat wajar sukses mengumpulkan kekayaan dibanding PNS. Sementara yang PNS merasa punya peluang besar dan terus secara turun temurun menjadi pegawai dengan menerima gaji rutin yang kenaikannya bisa diprediksi. Berbeda dengan pedagang yang bisa kaya raya, tapi juga bangkrut melarat. Tak perlu menjadi orang pintar atau petinggi negeri untuk mengerti hal ini. Jadi jika bicara kaya jangan salahkan suku, ras, atau agama seseorang, tapi salahkanlah pilihan karier anda. Jika mau marah jangan pada pedagang yang berhasil membangun usaha raksasanya dengan tumpukan uang yang luar biasa, melainkan pada pejabat yang gaji dan tunjangannya bisa dihitung secara mudah namun bisa hidup kaya raya melebihi penghasilannya. Mereka koruptor yang selalu berbicara tentang orang miskin tapi tak pernah hidup miskin, bahkan memperkaya diri dengan memiskinkan rakyat yang haknya dikorup. Pejabat, politisi korup seperti inilah yang patut dipelototi dan dipenjarakan. KPK sudah membuktikan dengan menangkap mereka, termasuk pengusaha yang melegalkan suap menyuap. Dan, karena menegakkan prinsip bersih dengan memberantas korupsi KPK selalu digonjang ganjing. Ternyata bukan soal suku, ras, atau agama, tapi soal fulus, itulah motif sesungguhnya. Banyak orang Batak dan Kristen kaya raya, tapi saya bukan, karena pilihan saya menjadi rohaniawan bukan pengusaha. Jangan salahkan orang lain yang kaya ya, jahat itu!

TRINITAS DAN PANCASILA

         Di sisi lain ada orang kaya yang berteriak ketidakadilan dengan menunjuk orang kaya dari suku, ras, dan agama lain sebagai penyebabnya. Entah dimana rasa malu diletakkannya, tapi yang pasti kebusukan menebar kemana-mana. Seharusnya jika dia tahu orang yang sesuku, ras, atau agamanya, masih sangat miskin, dia malu menjadi orang sangat kaya. Sudah semestinya dia hidup berbagi dan bukan memanfaatkan kemiskinan saudaranya demi ambisi dan cap pahlawan. Adalah sebuah masalah serius dalam hidup berbangsa jika para pejabat sekaligus menjadi pengusaha, mereka leluasa menggelapkan banyak hal. Sekalipun, betapa beruntungnya jika seseorang yang berhasil menjadi kaya dan mengabdikan diri di politik, dan bukan untuk mencari tambahan, tapi demi rakyat yang dicintainya. Politik itu bisa terhormat, tapi juga biadab, sangat tergantung pada perilaku pemerannya. Di sinilah seharusnya rakyat melek, tak termakan isu murahan, sebaliknya cermat mengenali para munafik dan menghukum mereka dengan tidak memilihnya menjadi wakil mereka. Atau membongkar kebusukan jika mereka pejabat karier yang korup. Marahlah bukan pada orang yang berbeda suku, ras, atau agamanya, tapi koruptor yang busuk mulutnya, sekalipun bisa jadi mereka sesuku, ras, dan agama dengan kita.

         Inilah pintu sila kelima, keadilan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan sekedar ceramah apalagi memecah belah. Tak hanya mampu membicarakan kemiskinan orang lain tapi tak berani membagikan hartanya yang melimpah. Atau, kalaupun berbagi hanya dalam rangka membangun citra, dan jumlahnya juga tak seberapa. Dia keluar uang kecil, tapi untung nama besar. Ah, jahatnya mereka yang bermain dengan kemiskinan dan keluguan rakyat, bukannya menolong malah memperalat.

Dunia kini terhubung oleh informasi yang super cepat. Kemanapun anda pergi dan apa yang anda katakan maka seluruh dunia segera mengetahuinya. Semoga itu hal yang mengharumkan bangsa.

Oh Pancasila, semoga dikau bukan hanya dikatakan tapi tak dilakukan. Aku jadi malu padamu.

#SAYAPANCASILA by: Bigman Sirait www.twitter.com/bigmansirait

Top