Natal Itu Tidak Seindah Natal Ini

Author : Pdt Bigman Sirait | Wed, 16 September 2009 - 13:52 | View : 2334

Follow Twitter: @bigmansirait

Selamat hari Natal sahabatku. Ada hadiah untuk Anda, tetapi…sedikit  pahit. Dan, ah… mungkin Anda akan terperangah, sebab hadiah ini sungguh tidak menarik, tidak lazim dan mungkin juga tidak sopan. Yang namanya hadiah Natal, biasanya kan  menarik, menyenangkan, dan serba baru. Anak-anak, misalnya akan menuntut hadiah  berupa baju, sepatu, asesoris yang semuanya baru. (Kecuali Papa, tentu tidak boleh minta istri baru).

Lho, ini sedang membicarakan apa sih? Mungkin Anda bertanya-tanya penasaran. Maaf, saya memang agak ngelantur, termangu-mangu melihat perilaku manusia masa kini yang atas nama Natal bisa-bisanya meraup keuntungan yang tidak sah. Lihat saja, sumbangan Natal untuk penduduk desa yang miskin, tetapi malah dibuat untuk membeli bensin berikut mobilnya. Atau seseorang yang berdiri bersaksi mengatakan betapa indah dan sucinya Natal ini, tetapi wanita yang di sampingnya bukan istri, tetapi ‘piaraan’, eh maaf, ‘simpanan’, eh maaf lagi, maksud saya teman fleksibel. (Karena wanita tersebut bisa sebagai teman, juga bisa sebagai istri, atau peran lainnya. Pokoknya fleksibel-lah.)

 

             Sampai di sini Anda mungkin berkata, “Usil amat sih, itu kan HAM seseorang, pilihan hidup atau sekadar modernisasi hubungan berbasis suka sama suka. Pokoknya Natal itu ya, happy happy , masa bodoh bagaimana, di mana, atau dengan siapa saya merayakannya. Saya, secara pribadi adalah mahluk merdeka, jadi tidak peduli apa kata orang-orang.”

 

Sebentar. Penulis jeda sesaat. Soalnya penulis semakin hanyut dan semakin jauh dari maksud hati. Begini lho, sahabat-sahabatku. Fakta sejarah tertulis dalam Injil Lukas 2:1-20. (Silahkan Anda buka Alkitab, baca secara perlahan, bayangkan dan renungkan). Itulah Natal pertama. Peristiwa itulah yang kita peringati setiap Desember, dari tahun ke tahun, bahkan sekarang ini. Dalam Natal pertama itu, seluruh hotel full booked.  Orang-orang berpunya asyik menikmati fasilitas hotel. Anak-anak bersendau gurau, sementara papa dan mama bernostalgia tentang kampung halaman, dan kisah cinta di sekolah.

 

            Malam itu, yang dikenang sebagai malam kudus, adalah malam yang tragis. Mengapa tidak? Tokoh sentral Natal, yaitu bayi Yesus, justru tidak mendapatkan satu kamar pun. Tidak ada ruang yang tersisa bagi Dia. Dunia seakan tidak rela berbagi tempat denganNya. Dunia tidak pernah tahu dan tidak mau tahu siapa Yesus. “Dunia tidak mengenalnya,” kata Yohannes Pembaptis. Yang tersisa bagi-Nya hanyalah sebuah tempat yang tidak pernah dicari orang, apalagi di-booking.. Nah, di tempat di mana orang tak sudi mampir itu, di situlah Yesus berada.

 

Apa makna yang bisa ditangkap dari kejadian yang sebenarnya memilukan itu? Di sinilah, Sang Penebus itu sedang mendemonstrasikan keberpihakanNya kepada orang-orang yang tersisih, yang selalu terabaikan dari satu Natal ke Natal berikutnya. DIA rela berhimpitan bersama mereka, rela berbagi rasa, bahkan berbagi kekekalan yang mutlak milik pribadi-Nya. Itulah Natal yang sebenarnya, di mana hadiah ajaib bukan saja singgah tetapi menjadi milik abadi orang yang percaya kepada-Nya.

 

 

 

Jadi, Natal yang pertama itu jelas berbeda dengan Natal kita, di mana semangat berbagi  hanya imitasi. Semangat berbagi itu hanya ada pada hari ini (baca: bulan Desember),  dan segera luntur esok hari (baca: di luar bulan Desember). Yesus lahir di malam Natal dengan fasilitas RSSS (baca: rasanya sangat-sangat sederhana). Tetapi apakah Dia batal hadir dan menunda Natal karena fasilitas RSSS? Tidak. Dia tidak menunda atau mengeluh atas apa pun. Dia mainkan peran-Nya sebagai Mesias dengan sukacita dan sukarela yang tidak terbilang. Sungguh ajaib kasih malam kudus. Kasih, kerelaan, kesukacitaan, itulah kekuatan utama Natal.

 

Dalam ukuran fasilitas, Natal pertama sungguh tidak layak. Namum dalam ukuran kualitas, Natal pertama sungguh sempurna luar biasa. Kualitas sempurna itu mampu menutup habis segala kekurangan fasilitas. Suasana hati yang penuh sukacita mengubah segalanya menjadi indah. Sungguh berbeda dengan Natal masa kini yang secara fasilitas, wah, wow, ck-ck-ck, pokoknya serba ruarr biasa…, tetapi secara kualitas sungguh menyedihkan. Jadi , apakah itu berarti kita tidak perlu dan tidak boleh memanfaatkan fasilitas yang lengkap untuk Natal? Tentu bukan itu maksudnya. Untuk menerbitkan tabloid REFORMATA misalnya, diperlukan berbagai fasilitas, begitu juga untuk menyelenggarakan sebuah perayaan Natal. Namun persoalannya bukan pada fasilitas, melainkan sikap hati terhadap fasilitas dan Tuhan yang empunya segalanya. Harus jelas ke mana arah yang Anda tuju: Tuhan atau fasilitasnya.

 

Jadi umat Kristen jangan sampai  terjebak hanya pada asesoris Natal, dan kehilangan  kesejatian maknanya. Natal itu bukan di mana atau bagaimana menyelenggarakannnya, namun bagaimana menyikapinya, memilikinya dan memberi dampak positif pada kehidupan sekitarnya. Bagaimana Natal itu mampu menjangkau jiwa-jiwa baru, menghibur yang susah, menguatkan yang lemah, itulah tujuan utamanya. Bukankah syair lagu para malaikat di malam Natal pertama adalah: … damai di bumi? (Bukan: meriah dibumi, toh?)

 

            Merenung ulang Natal pertama, turunnya kasih suci bagi umat berdosa, mengingatkan kita untuk hidup tidak bergelimang dosa. Natal membuat kita tidak lagi terkonsentrasi pada apa yang menjadi kenikmatan diri, tetapi belajar berani untuk berbagi diri. Seperti Yesus yang senantiasa hadir dan memberi syalom (damai sejahtera jasmani dan rohani) pada mereka yang tersisih, teraniaya, tidak berdaya baik secara fisik , ekonomi bahkan yang utama, mati rohani.

 

            Nah, sahabat,  Natal 2003 di bumi kita ini diwarnai oleh berbagai tragedi dalam skala lokal maupun nasional, keributan hingga bencana alam. Belum lagi warna-warni kepalsuan. Bukankah ini sebuah momentum yang tepat untuk membangun ulang makna Natal yang yang sejati seperti Natal yang pertama? Bukankah Kritus mau supaya kita melakukan seperti apa yang telah dilakukan-Nya? Kalau ada kepalsuan, buanglah, kenakan jubah murni kristiani. Gaya hidup yang salah, ubahlah dengan pengendalian diri dan kerendahan hati. Banyak  hal yang bisa kita lakukan menuju kesejatian dan mendemonstrasikan kualitas Natal yang pertama. Silahkan untuk menikmati limpahan berkat jasmani yang Tuhan berikan pada Anda, tapi jangan lupa, Tuhan juga mau agar Anda berbagi, bukan? Jadi sekali lagi bukan tak boleh menikmati tetapi jangan sampai mengabaikan yang lainnya. Acara Natal dan berbagai asesoris lainnya hanyalah alat dan bukan tujuan Natal. Tujuan Natal adalah bagaimana Tuhan dipermuliakan. Tuhan yang telah rela menjadi manusia. Cukuplah sekali saja kita telah mengabiakn DIA pada Natal pertama, jangan diulang lagi.

 

            Aduh, beruntung sekali saya, sebab akhirnya bisa menyampaikan kisah Natal yang dimaksud, dan tidak terus-menerus hanyut dalam emosi yang meninggi melihat realitas kehidupan manusia modern dan model Natal masa kini. Semoga kisah ini bukan hanya untuk Anda tetapi juga untuk saya. Mat Natal. ***

Top