KORNELIUS GANTI AGAMA

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 28 September 2009 - 14:25 | View : 1060
Tags : Agama
Kisah seseorang berganti agama adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi di muka bumi ini. Dari satu agama pindah ke agama yang lain. Tidak ada yang aneh di sana, karena sejak dulu, pindah agama menjadi hak seseorang, sekalipun untuk itu dia harus berani menerima risiko penolakan oleh lingkungan agama yang sebelumnya. Jadi agama baru pilihannya tidak pernah dipersalahkan, yang dipersalahkan adalah orang yang memilihnya. Oleh karena itu yang menjadi agak aneh adalah, jika di jaman modern ini seseorang diatur dalam beragama dan dikekang dalam kebebasan memilih keyakinan imannya.
Kornelius, yang diperkirakan hidup sekitar tahun 60-70 Masehi, bukan Yahudi, juga bukan Kristen, namun dia kemudian memilih menjadi pengikut Kristus. Kornelius adalah seorang terhormat, perwira pasukan Romawi dari Kaisarea. Dia masuk dalam pasukan Italia yang berpusat di Syria. Tidak ada kisah, akibat Kornelius masuk Kristen maka agama tersebut dipersalahkan. Juga tidak ada kisah bahwa Kaisar Roma yang kafir mengeluarkan surat melarang seseorang untuk menjadi Kristen. Bahwa ada penganiayaan oleh Roma terhadap orang Kristen, itu hanya sikap pribadi Kaisar, bukan berdasarkan Konstitusi Roma.

Lihat saja Paulus, seorang Kristen, bisa naik banding kepada Kaisar atas hukuman cambuk yang dilakukan terhadapnya (Kisah 22 : 23-29, dan Kisah 24-26). Padahal, sebagai seorang warga negara Roma, Paulus tidak boleh dihukum cambuk. Hukum di era, yang katanya kerajaan kafir itu, sangat tegas melindungi warganya dan nyata sekali nilai persamaan hak, apa pun agamanya. Begitu juga sikap orang Yunani yang terbuka terhadap dialog sehingga memungkinkan Paulus ber-apologetika di Areopagus (Kisah 17:16-34).

Yang lebih banyak melakukan penekanan terhadap kekristenan justru majelis agama Yahudi, yang katanya agama samawi. Mengaku sebagai warga kelas satu dan umat pilihan Allah, tapi perilaku mereka sungguh menyedihkan. Menyalibkan Yesus Kristus dan menganiaya pengikut Kritus. Pemerintah Roma lebih sering diperalat oleh para majelis agama untuk menggapai ambisi menghabisi umat Kristen. Segala cara mereka lakukan untuk memberangus kekristenan. Namun fakta sejarah menceritakan bagaimana kenyataan penganiayaan justru menjadi pupuk pertumbuhan umat Kristen.

Di era modern ini, gelombang yang sama tetap pada nada yang sama, yaitu pemuka agama justru lebih sering menjadi pusat masalah. Sementara mereka yang memilih jadi atheis jauh lebih “cool” dan menghargai perbedaan dalam kemerdekaan sikap. Bukankah agama seharusnya mampu menjadi model untuk ditiru, modal untuk membekali, dan motor yang mendorong umat bergerak maju, menghargai sesama, bukan menindas? Karena itu, sungguh sejuk ketika Yesus berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kristen tidak diberi ruang untuk tampil egois, memonopoli, apalagi menguasai sekalipun mayoritas, melainkan mengasihi.

Agama adalah sebuah panggilan kasih ilahi yang tidak boleh dicampuri oleh siapa pun. Panggilan ini bersifat pribadi dan merupakan pilihan yang paling merdeka dari pilihan apa pun di muka bumi ini. Bagaimana mungkin kita terjebak pada kesalahan, memaksakan seseorang pada pilihan diri. Rasanya manusia perlu bercermin diri, karena Tuhan sendiri tidak menahan seseorang yang ingin meninggalkan DIA yang berkuasa. Yang meninggalkan Tuhan, berarti memilih hidup binasa, dan itu adalah pilihannya. Kalau Tuhan saja tidak melarang, siapakah manusia sehingga melebihi Tuhan? Biarkan mereka memilih sesuai pilihannya dengan segala risikonya. Saya berharap orang Kristen berlaku sama. Jika Anda tidak ingin kehilangan seseorang karena berganti agama (meninggalkan iman Kristen), lakukanlah apa yang Tuhan ajarkan yaitu mengasihi. Ajarkan kebenaran dan demonstrasikan kasih. Anda tidak perlu gelisah. Jangan marah pada seseorang yang meninggalkan dirimu dan memilih yang lain yang dia kira lebih baik (ganti agama), melainkan sesali dan koreksi dirimu sendiri mengapa engkau begitu layak untuk ditinggalkan.

Agama bukanlah sebuah ajang perebutan, apalagi pertikaian. Dalam perbedaan keimanan, yang paling baik adalah kompetisi. Biarkan orang menilai mana yang terbaik bagi dirinya, kecuali kita menganggap umat itu bodoh semua, dan pemuka agama adalah guru yang bisa dipercaya. Dalam soal keagamaan di Indonesia, kita perlu sangat berhati-hati agar tidak terjebak pada kondisi “playing God”. Kebersamaan kita akan sangat indah jika ada kemerdekaan beragama yang memang dijamin UUD 45 pasal 29, bukan kecurigaan. Bukankah untuk membangun masa depan diperlukan kebersamaan? Semoga kita cukup dewasa untuk hidup bersama dalam kekayaan perbedaan. Berbahagialah Kornelius yang hidup di era kekuasaan kafir, bukan di sini, saat ini.
Top