Ketika Kebebasan Mengeksekusi Agama

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 28 September 2009 - 14:31 | View : 1155

Pdt. Bigman Sirait

KEBEBASAN adalah “dewa modern” yang sangat diagung-agungkan oleh para penganutnya. Betapa tidak, karena sang dewa dengan senang hati mengangkat para pengikutnya menjadi sama dengan dirinya. Hal ini sungguh berbeda dengan konsep agama samawi yang percaya bahwa ada Allah yang berkuasa, Allah yang menciptakan seisi dunia, termasuk manusia tentunya. Allah yang berdaulat harus disembah umat. Dia Allah yang murka jika umat berbuat dosa, yang melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Setiap hal yang tidak memenuhi standar Allah, tidak tepat dengan yang ditetapkan-Nya, itu adalah dosa. Dalam konteks agama samawi ini, ruang gerak manusia terasa sempit, terlalu banyak larangan. Dan hal itu diprotes mereka yang selalu ingin kebebasan tanpa batas.
Nah, realita ini membuat banyak umat mundur teratur, dan merapatkan barisan ke arah dewa yang bernama kebebasan: Dewa yang memberi mereka ruang tanpa batas, ekspresi tanpa aturan, dan berbagai wujud kebebasan yang sebebas-bebasnya. Aktualisasi kebebasan muncul pada berbagai aspek kehidupan. Dalam dunia seks, “pesta besar” digelar, homoseks (guy untuk yang pria dan lesbian untuk yang wanita), diberi label pilihan hidup. “Homoseks bukan dosa,” itu kilah mereka. Tiap orang memiliki kebebasan, menyukai apa yang mereka sukai, termasuk yang disebut agama sebagai penyimpangan. Hedonisme adalah kepercayaan mereka. Banyak nilai-nilai luhur moral yang dilahirkan agama, dijungkirbalikkan, dikikis oleh anak-anak dewa kebebasan. Mereka membangun suatu aturan yang tidak beraturan.
Semakin hari, barisan mereka semakin panjang, dan ekspresi mereka semakin menggila. Agama menjadi bahan tertawaannya. Keteraturan, dianggap suatu kebodohan. “Produk masa lampau,” kilah mereka. Pakaian tak lagi dibutuhkan, karena ketelanjangan bukan lagi persoalan. Tuhan bukan lagi yang di sana (ilahi), tapi yang di sini (diri sendiri). Lahirnya majalah Playboy di tahun lima puluhan, adalah wujud ejekan kepada kaum puritan yang mengumandangkan kesalehan beragama di Amerika. Memang, harus diakui, ada hal yang kurang bijak dari kaum puritan pada waktu itu, yang menjadi celah untuk pengejekan. Jadi, tidaklah mengherankan, jika kemudian muncul pelecehan terhadap agama. Di waktu lampau, di Amerika muncul film The Last Temptation, yang mengisahkan Yesus Kristus birahi pada perempuan Samaria (dalam konteks Yoh 4). Ini cukup mengguncang umat Kristen waktu itu, sekalipun tidak menimbulkan perusakan di sana-sini. Dan, uniknya, ternyata tidak sedikit para pendeta berpaham liberal menganggap film itu sah-sah saja. Wow, ternyata virus kebebasan itu telah merasuk jiwa pendeta-pendeta “berdarah” liberal.
Kali ini, ledakan besar terjadi di Denmark, yang juga melahirkan guncangan di berbagai belahan dunia. Atas nama kebebasan, koran Denmark, Jyllands-Posten, membuat karikatur Nabi Muhammad SAW (dalam penampilan yang menyinggung perasaan umat Islam). Mereka menyebutnya sebagai ekspresi kebebasan, tanpa pernah menyebut itu salah. Hanya saja, mereka—dan banyak orang lain di negara lain—harus menuai luapan amarah, atas ulah yang tidak simpatik dan tidak bertanggung jawab itu. Entah, apakah mereka siap menerima, bahwa bom bunuh diri pun bisa saja disebut sebagai ekspresi kebebasan dalam berjuang.
Ketika anak dewa kebebasan melakukan pelecehan agama, mereka menyebut ulahnya itu sebagai ekspresi kebebabasan. Sebaliknya, orang lain yang melakukan bom bunuh diri, mereka sebut itu suatu kejahatan. Sungguh tidak bisa dibayangkan, mau jadi apa dunia ini kalau semua orang bebas melakukan apa yang mereka inginkan, namun saat bersamaan mereka merusak “kebebasan” orang lain, yaitu bebas dari rasa terganggu, dari sebuah kerusakan.
Kebebasan, hanyalah ekspresi ketakutan untuk terikat dan ketidakberanian menjadi komunitas yang saling menghargai. Alkitab dalam Kejadian 3 menggambarkan betapa sempurnanya manusia dalam keterbatasannya. Keterbatasan membuat manusia saling membutuhkan (Adam dan Hawa). Saling mencintai karena saling melengkapi dalam keterbatasan. Di sisi lain, karena terbatas, manusia membutuhkan Tuhan. Dan itu membuat manusia terkait dengan sumber kehidupan. Ketika manusia tergoda, dan ingin menjadi sama dengan Tuhan, maka mereka mati dan terlempar dari kehidupan. Andaikata mereka menikmati keterbatasan, betapa sempurnanya hidup manusia.
Era modern kembali mengulang tragedi kehidupan, ketika manusia ramai-ramai memilih menjadi anak dewa kebebasan. Dalam sorot Mata Hati, betapa perlunya manusia kembali duduk merenung, menemukan jati diri sebagai manusia yang manusiawi. Tak seenaknya, atas nama kebebasan, tapi juga tak arogan, atas nama kekuasaan, dan tentu saja tak diskriminatif atas nama mayoritas.
Rupanya, manusia perlu belajar kembali menjadi manusia. Jangan lupa, kebebasan tanpa batas hanyalah milik mereka-mereka yang menghuni hutan. Jangan membuat kawanan binatang itu tidak tenang karena Anda “mencontek” cara hidup mereka. Atau memang Anda sendiri ingin menjadi penduduk hutan? Entahlah, tapi yang pasti saya lebih suka menjadi manusia yang manusiawi, yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26-27).
Top