RITUAL TANPA SPRITUAL

Author : Pdt Bigman Sirait | Wed, 1 July 2015 - 14:06 | View : 3656
campuslifespirituallife.jpg

Follow     @bigmansirait

Ibadah telah terperangkap dalam ritual dan kehilangan nilai spritualnya. Situasi inilah yang sedang terjadi dipanggung agama. Ironis! Tapi itulah kenyataannya. Dan lebih miris lagi karena gereja juga ada didalamnya. Kehilangan makna ibadah yang sejati. Kritik Yesus terhadap ritual tanpa spritual sangat keras. Mengutip kitab Yesaya, Yesus berkata; Hai orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu; Bangsa ini memuliakan AKU dengan mulut bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada KU. Percuma mereka beribadah kepada KU, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia (Matius 15:7-9). Keras, tegas, jelas, tak perlu diperdebatkan. Yang perlu dipahami adalah detailnya seperti apa sehingga ibadah Israel ditegur?
Pujian yang percuma, bisa menunjuk kepada lagu-lagu pujian atau kata-kata yang memuji Allah. Mengapa Allah tidak berkenan? Jelas hati mereka jauh daripada Allah. Mereka menata ritual ibadah sedemikian rupa, sehingga tampak khusuk dan sakral. Padahal sejatinya tak ada nilai spritual disana. Ah, betapa menyedihkannya. Orang beragama bisa menipu sesamanya, celakanya mereka berpikir bisa menipu Allah. Pujian adalah untuk menyenangkan Tuhan, tapi kita merampasnya untuk kesenangan diri. Ketika memuji yang penting aku senang, emosi terpenuhi. Itu sebab lirik lagi tak terlalu penting, asal enak dan pro kenikmatan. Pergumulan hidup yang diwujudkan dalam pemahaman teologi yang memadai diabaikan. Pujian berubah menjadi kata yang menyenangkan diri, memuaskan emosi, dan akhirnya menjadi sebuah panggung hiburan. Kata-kata yang digunakan berbaju agama, tapi hati munafik kata Alkitab. Mengapa? Karena ucapan mereka tak sejalan dengan perilaku hidupnya. Mereka memuji Allah tapi menyalibkan Yesus Kristus. Mungkin kita berkata bukan kami, karena kami percaya kepada Yesus Kristus. Apa iya? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang jujur.
Israel menyalibkan Yesus Kristus, tapi Kristen percaya pada Yesus Kristus, itu argumen klasiknya. Namun kenyataan yang tak bisa dibantah, Alkitab berkata; Barang siapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Galatia 5:24). Artinya sangat jelas, Kristen yang percaya Yesus adalah mereka yang menyalibkan hawa nafsu kedagingannya. Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah hawa nafsu itu terkendali? Apakah menyangkal diri dan memikul salib kita cintai? Bukankah gereja seringkali berubah menjadi panggung busana? Arena lomba make up. Setiap orang layak tampil rapi dan merias diri. Tapi, ketika itu telah menjadi harga dan keyakinan diri, semua berubah menjadi malapetaka. Orang Kristen kehilangan jatidirinya. Ini menjadi bagian luar yang paling mudah untuk dikenali. Penampilan itu perlu tapi jangan sampai menguasai diri. Bagaimana kita mengatakan kegereja untuk memuliakan Tuhan, jika kemuliaan penampilan telah menjadi yang pertama dan utama. Ah, betapa perlunya penguasaan diri dalam penampilan diri.
Mengikuti ibadah semua menyanyi. Pemimpin pujian berusaha tampil energik dengan suara yang menyakinkan. Tampak menyenangkan, tapi juga membingungkan, karena sulit membedakan antara mimbar gereja dengan panggung konser. Cara dan gaya, mirip semua. Yang berbeda hanyak syair lagunya. Tujuan yang hendak dicapai juga sama, agar umat merasa senang. Tuhan tak pernah dipertanyakan, apakah DIA senang atau tidak! Sekalipun kata mari menyenangkan Tuhan dikumandangkan tapi berlawanan dengan kenyataan yang ada. Itu sebab performence pemimpin pujian dalam menyanyi sangat diperlukan dan menjadi syarat utama, sementara moral menjadi dipandang sebelah mata. Antara pelayanan dan transaksi pembayaran semakin kabur jaraknya. Ah, materi menjadi yang terpenting. Itulah realita ibadah. Penyanyi, pemusik, sama profesionalnya, sehingga gereja juga menjadi arena profesional dan bukan lagi spirit melayani dengan sukarela. Memang perlu keberanian yang utuh untuk mengakuinya. Tapi yang pasti komentar jemaat mengaminkan semuanya. Wah, tadi luar biasa ya, saya terasa “terangkat” ketika memuji Tuhan. Sementara perubahan perilaku tak tampak. Ironis ya. Itulah kenyataan ibadah, sehingga patutlah Yesus Kristus mengkritiknya. Bagi para imam pada masa itu, bodoh amat dengan ucapan Yesus Kristus. Yang pasti mereka mendapatkan keuntungan materi yang terus menambah isi pundi-pundinya. Semakin jemaat senang, semakin meningkat keuntungan materi. Menjadi tak penting Tuhan senang atau tidak, tapi yang pasti jemaat harus senang. Karena itu pemuji harus memilih kata-kata yang memuji umat dan bukan kata yang menguliti dosa. Umat adalah aset, sumber pendapatan.
Maka jelaslah mengapa Tuhan tak suka pujian kita. DIA melihat jauh kedalam lubuk hati dan menemukan  kita tak jujur dalam beribadah. Ajaran manusia, yaitu ukuran selera yang harus dipenuhi dalam beribadah. Yang penting jemaat senang, sehingga gereja penuh. Tak penting Tuhan senang atau tidak, sehingga semua ucapan hanyalah basa basi yang menyenangkan telinga saja. Bibir memuji, tapi hati bengkok. Karena itu tidak heran, jumlah gereja bertambah, juga jumlah umat, namun perubahan menuju kebaikan dikehidupan tak bertambah. Sebaliknya justru kejahatan, kemunafikan, yang terus bertambah. Mengapa? Karena gereja terjebak diritual ibadah yang jauh dari nilai spritual.
Memuji Tuhan bukanlah pemenuhan kepuasan emosi, melainkan penaklukan jiwa yang mengagungkan DIA. Pemuasan emosi itu pencapaian yang menjadi target nyanyian atau musik pada umumnya. Sangat berbeda dengan gereja, sentuhan jiwa yang mewarnai emosi. Jiwa lebih tinggi dari emosi, yaitu kekuatan pemahaman, pengalaman dengan Tuhan, dan penghayatan yang mendalam. Pujian dengan segenap jiwa dan penghayatan yang benar akan tampak hasilnya pada perubahan perilaku kesehariaan. Orang yang sungguh memuji Tuhan, kesukaan surga memenuhi hatinya. Itu sebabnya pujian yang benar itu menguatkan iman dan membawa kita makin dekat kepada Tuhan. Dalam memuji Tuhan, kita tak hanya memuji DIA, tapi juga menyembah dan menaikkan doa kepada NYA. Pujian yang benar tak bisa lepas dari ketiga aspek ini.
Bagaimana dengan kita tatkala menaikkan pujian? Apakah hanya memenuhi tuntutan ritual belaka? Atau sungguh-sungguh dalam penguasaan Roh Kudus. Pujian yang benar memiliki kekuatan perubahan. Israel seringkali dihardik Tuhan dalam berbagai kesempatan; Memuji Tuhan tanpa hati, berdoa dalam kemunafikan, memberi persembahan dan persepuluhan dengan perhitungan, dan ibadah penuh intrik. Padahal yang menjadi kerinduan surga adalah agar semua yang kita lakukan sesuai dengan kehendak surga. Panggilan bagi umat yang ada dalam doa Bapa kami, jadilah kehendak MU dibumi seperti disurga. Bukan hanya sekedar kata-kata motivasi, menyemangati umat agar memuji dengan suara menggelegar, atau bergembira, namun kehilangan hati. Awas jangan terjebak! Dan ingat, memuji dengan jiwa bukan tanpa emosi, tapi tidak memuaskan emosi. Sangatlah penting bersikap kritis agar kita tak terjebak dalam ibadah yang ditolak Allah.  
Akhirnya, selamat meneliti hati ketika memuji. Tak ada yang tahu isi hati kita, sehingga mudah memanipulasinya. Tapi mata Tuhan, tak mungkin kita lari dari NYA. Semoga rasa hormat yang benar ada pada umat pemuji Tuhan.

See Also

jQuery Slider
Top