NATAL DI CELAH BENCANA

Author : Pdt Bigman Sirait | Thu, 6 January 2011 - 13:50 | View : 3186
 Pdt. Bigman Sirait
Follow Twitter: @bigmansirait
Reformata.com - ENTAH mengapa Indonesia  beruntun ditimpa bencana.  Beruntun tafsir datang silih berganti, mulai dari, politisi, ekolog, sosiolog, hingga teolog. Semua coba menjelaskan dari sudut pandang masing-masing. Tulisan ini tak hendak menambah tafsir yang ada, tapi coba mengajak kita melihat fakta. Natal di bulan Desember kini membentang menanti kita umat Kristen. Tak kurang orang yang menerawang tentang Natal yang akan tiba, khususnya saudara kita yang ada di daerah bencana alam. Bagaimana mereka, atau kami, akan menghadapi Natal, itu ungkapan yang paling umum. Ya, bencana alam seakan menjadi momok akan mengurangi atau bahkan mungkin menghabisi gairah Natal. Sebuah bayangan yang dapat dipahami, mengingat umat telah terbentuk memahami Natal adalah sebuah kemeriahan pesta. Sebuah konsep salah yang dengan deras melanda umat, sehingga umat kehilangan makna sejati akan Natal.

Konsep ini telah menjadi bumerang bagi umat dalam memahami makna Natal. Bayangkan jika bagi kita Natal adalah pesta, maka umat di daerah bencana sudah pasti kehilangan Natal itu. Jika Natal adalah baju baru, sepatu baru, dan yang baru lainnya, sudah pasti umat di daerah bencana akan berduka, karena mereka tidak punya. Atau Natal adalah ibadah meriah yang diwarnai dekor yang ekstra wah, mereka pasti tak bisa menikmati. Jangankan dekor, gedung gereja pun sudah rata tanah, atau paling tidak, tidak layak pakai. Begitu pula dengan fasilitas lainnya, termasuk bahan pangan. Untuk kebutuhan sehari-hari saja terasa sulit, apalagi jika harus untuk kebutuhan pesta.
Mari kita coba kembali kepada Natal pertama. Ketika Bunda Maria melahirkan bayi Natal, dia melahirkan di kota kecil Betlehem, bukan kota besar seperti Yerusalem pada waktu itu. Atau bahkan Nazaret, kota tempat tinggal Maria saat itu jauh lebih besar. Tak ada kemegahan kota metropolitan di Betlehem, tapi itulah kota tempat Yesus dilahirkan, seperti nubuatan Nabi Mikha. “Hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara Yehuda, dari padamulah akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permula-annya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:1).

Kecilnya kota Betlehem di antara Yehuda, ternyata mengukir kisah besar, terbesar sepanjang sejarah Yehuda bahkan sepanjang masa. Ya, kebesaran yang tak terbilang, tak terukur. Natal telah mengubah Betlehem menjadi buah bibir sepanjang sejarah. Bandingkan dengan Yesusalem kota besar, yang pada masa itu adalah tempat raja bertakhta dan para imam melayani. Di sana terdapat istana Herodes yang mewah, dan di sana pula berdiri Bait Allah nan megah. Namun, Yerusalem kelak hanyalah kenangan. Ya, istana rubuh, bahkan Bait Allah diratakan tanah oleh kebengisan Kaisar Titus, kaisar Roma  di tahun 70. Yesus sendiri menubuatkan kesunyian Yerusalem, dan keter-hilangannya seperti anak ayam yang kehilangan induknya (Matius 23: 37-39). Betlehem memang kecil tapi dengan karya besar, sementara Yerusalem memang kota besar dengan karya tak terpuji. Dari Yerusalem keluar perintah dari mulut Herodes untuk mencari dan menghabisi bayi Yesus. Kelak dari Yerusalem pula keluar perintah dari mulut para imam untuk menyalibkan Yesus Kristus. Pikiran dan siasat busuk mengalir dari sana. Yerusalem pula mengingatkan kita kisah Natal yang dikunjungi para Majus, atas informasi para imam. Majus tiba di Betlehem sementara para imam lebih suka tinggal di Yerusalem dalam kemegahan istana.

Natal telah menujukkan kualitas yang sejati. Bukanlah Natal jika kita hanya memikirkan fasilitas. Dan bukan jaminan bahwa imam yang selalu bericara suci, bahkan menunjukkan tempat Natal sebagai orang yang hadir di Natal itu. Mereka tahu, atau mungkin fisik mereka hadir, tetapi hati mereka tetap terikat pada fasilitas yang ada. Karena itu dicelah bencana yang ada, umat jangan terjebak pada situasi kota atau memikirka gedung tempat berkumpul.

Betlehem bukan kota besar tapi bernatal sempurna. Kota yang ditimpa becana alam tak akan menghilangkan makna Natal, bahkan sebaliknya menolong kita menemukan makna yang sesungguhnya. Di kota bencana umat bisa kembali dengan khusuk merenung Natal, terhindar dari hingar bingar pesta kota yang seringkali memerangkap. Jadi, kota yang tertimpa bencana, bukan bencana bagi Natal, bahkan bisa menjadi berkah tersendiri. Karena Natal bukan soal kota tapi soal hati. Yesus terlahir di kota kecil sebagai simbol keberpihakan Natal pada umat di lapis terbawah sekalipun. Dia bisa memilih kota mana pun, tapi Natal bukan itu.

Soal fasilitas juga setali tiga uang. Kelahiran Yesus tidak ada penyambutan, yang ada justru penolakan. Sebuah ketidakpedulian manusia akan kehadiran Sang Allah yang menyapa. Tidak ada tempat bagi Yesus. Persis seperti sebuah kita yang ditimpa bencana alam, tak ada bangunan yang tersisa, tapi di sanalah Natal yang sejati itu ada. Tradisi gereja menggambarkan kandang hina sebagai pusat Natal pertama. Berbeda jauh dengan semangan Natal di kekinian masa. Dengan jelas dan lengkap lukisan Natal pertama, adalah kota kecil, tak berkamar, tak ada fasilitas, tak ada penyambutan, dan penuh dengan penolakan, sikap masa bodoh orang sekitar.     Karena itu bencana yang menimpa sebuah kota tak mungkin bisa menghilangkan makna Natal. Karena bencana yang sesung-guhnya pada Natal, bukan bencana alam yang meluluhlantakkan gedung gereja. Sebaliknya, bencana Natal justru kemegehan gedung gereja yang kehilangan makan Natal yang sesungguhnya. Gereja yang pongah dengan kemegahannya, lupa panggilan pelayanannya. Keung-gulan fasilitas bukanlah masalah jika hanya pelengkap saja. Tetapi adalah bencana ketika itu menjadi penentu Natal itu sendiri. Di mana tempat kita berdiri memahami Natal sejati menjadi pertanyaan yang tidak boleh berhenti sepanjang hayat dikandung badan.

Karena itu, saudara seiman yang ada di daerah bencana, tak perlu risau dengan Natal, jika itu soal tempat atau fasilitas. Yesus Kristus Natal sejati itu hadir di hati yang sungguh, bukan di gedung, atau acara seperti apa pun.
Ada sebuah cerita imajinasi tentang Natal yang cukup mengu-sik. Diceritakan di surga rasul Petrus bertanya pada orang percaya yang masuk surga, di manakah gerangan Yesus akan hadir dan bernatal. Berbagai jawaban meluncur, mulai di gereja hingga di kemiskinan. Petrus berkata, Yesus tidak akan hadir di gereja karena tidak ada yang perduli dengan Dia. Semua hanya menyebut nama-Nya tetapi tidak mengenal-Nya. Di penjara juga tidak, karena para napi hanya sibuk dan asyik dengan berbagai acara Natal yang langka bagi mereka. Begitu juga dengan orang miskin yang sibuk dengan hadiah yang diberikan oleh dermawan Kristen tahunan, yang berderma setahun sekali. “Yesus tidak hadir di sana,” kata Petrus. Semua orang percaya terdiam dan hanya mampu saling memandang. Petrus memecah kesunyian dan berkata : Yesus akan hadir di hati yang menangis, hati yang jujur, yang selalu menantikan Dia. Tempat, fasilitas tak penting bagi Yesus, tapi hati.
Karena itu, di celah bencana ada terbuka sebuah celah yang indah, di mana umat bisa masuk. Celah di kedukaan, kehilangan, ketiadaan, di sana juga ada celah permohonan, kerendahan, dan pengharapan yang kuat akan Yesus Kristus bayi Natal yang sejati. Celah itu memang tak disuka umat manusia yang selalu cenderung serakah, tetapi itulah celah yang sangat menolong kita menemukan diri.

Semoga umat di daerah bencana tak kehilangan celah itu. Karena kehilangan celah itu sama saja bencana susulan yang mematikan. Sudah banyak orang Kristen yang mati nurani, dan memandang Natal sekadar seremonial belaka. Semoga saudara di daerah bencana bangkit dari kematian rohani, dan menikmati berkat Natal di reruntuhan materi. Ingat di ketiadaan kita, Tuhan ada. Dia ada karena kita belajar menyangkal diri dan memikul salib hingga tiada aku lagi.       Semoga celah bencana menjadi berkat Natal bagi saudaraku. Dan, kita yang tak terkena bencana, hati hati, jangan jangan kitalah korban bencana yang sesungguhnya.
Top