Tanggapan Perbedaan Islam Dan Kristen

Author : Pdt Bigman Sirait | Wed, 1 August 2012 - 09:27 | View : 5339
Nasib, Kristen, Rencong,Aceh.JPG

Pdt. Bigman Sirait

Reformata adalah penganut sinkretisme yang 100% ditolak dalam ajaran Tuhan Yesus Kristus, alasannya:
1. Reformata, mengatakan tak ada agama yang mengajarkan konflik
2. Hal ini menurut saya jelas 100% salah, karena saya bisa buktikan berdasarkan ayat-ayat suci agama tertentu yang mengajarkan konflik
3. Reformata juga menuliskan “Jadi jika ditanya apakah Allah Yahudi dan Kristen sama? Jawabannya jelas sama.”
Pendapat saya, Tuhan bukan Allah, karena di ajaran Tuhan Yesus Kristus tidak ada Allah!
Tuhan Yahudi 100% berbeda dari Tuhan sejati Yesus Kristus.
Dengan alasan itu saya menilai Reformata menghalalkan sembarang cara untuk mencapai tujuan merangkul umat non Kristen. Reformata menyatakan “tak ada agama yang mengajarkan konflik”. Tentu itu 100% salah. Saya bisa tunjukkan ada agama berdasarkan kitab sucinya mengajarkan konflik. Reformata juga mengatakan “…dituntut ketajaman berpikir seorang Kristen, sehingga tidak asbun (asal bunyi)”
Orang yang asbun adalah orang yang mengatakan sesuatu yang tidak berdasarkan fakta, seperti yang dikatakan tak ada agama yang mengajarkan konflik.  Jelas 100% salah, karena saya bisa buktikan berdasarkan ayat-ayat suci agama tertentu yang mengajarkan konflik. Kalau gitu siapa yang asbun, dong?

Satia M. Sitorus

Menarik, mengulas tanggapan dari sdr. Satia atas konsultasi teologi edisi 151, tentang di mana perbedaan Islam dan Kristen.
Yang pertama, Sdr. Satia mengatakan, bahwa REFORMATA  100% penganut sinkretisme.  Sinkretisme adalah paham yang merupakan perpaduan dari beberapa paham yang berbeda, untuk mencari keserasian atau kesimbangan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).  Dalam konteks teologi dipahami sebagai terjadi percampuran di dalam perpaduan, sehingga tidak lagi menjadi pemahaman yang murni (ukuran iman kristen, tentu saja ajaran Alkitab). Karena itu sudah menjadi panggilan bagi setiap umat untuk menjaga kemurnian ajaran iman Kristen. Rasul Paulus dalam melawan sinkretisme berkata dengan tegas agar umat berhati-hati terhadap injil yang lain (2 Korintus 11:4, Galatia 1:8). Dalam kesempatan lain para Rasul mengingatkan tentang kemurnian ajaran. Tentu saja kami sangat menyadari arti sinkretisme, dan tidak akan terjebak di sana. Karena itu, dengan mudah pula kita akan pahami apa yang dikatakan berikut, bahwa REFORMATA , dalam hal ini pengasuh rubrik, yaitu saya, Pdt. Bigman Sirait, salah 100% mengatakan agama tidak mengajarkan konflik. Paling tidak vonis 100% sinkretis, dan 100% salah, sudah menunjukkan semangat konflik. Padahal ini masih di ranah yang sama, yaitu Kristen. Tapi karena dianggap sinkretis, pasti dianggap tidak Kristen (bukan ajaran yang murni). Semoga penalaran saya kurang tepat. Sementara soal konflik sangat jelas tertulis di REFORMATA edisi 151 alinea pertama, tidak ada ajaran langsung, melainkan dalam konteks pembelaan diri (soal ini sangat tergantung pada tingkat moderat hingga radikalnya seseorang dalam beragama).
Bicara konflik agama, permukaan bumi ini penuh dengan darah akibat konflik agama. Di India, ada ratusan korban Islam oleh penganut Hindu.  Sebaliknya, di Pakistan, yang mayoritas Islam, Hindu yang menjadi korban. Tapi jangan lupa, di Serbia ada banyak Islam yang menjadi korban oleh Kristen. Sementara di Irlandia utara, ah, Kristen dan Katolik yang baku konflik dengan korban yang panjang. Begitu juga di internal Islam, antara Sunni dan Shiah. Belum lagi Bahai, Druz, Ahmadiyah. Di Indonesia banyak umat Kristen yang teraniaya oleh “kelompok Islam”. Jadi jelas, ada konflik, bahkan berdarah. Tapi apakah ada ajaran di Alkitab agar umat Kristen konflik dengan umat lain, seperti di Serbia maupun Irlandia. Tolong dibedakan antara ajaran murni, dan tafsir terhadap ajaran itu sendiri. Dalam Islam, tafsir soal jihad berbeda. Bagi yang moderat itu adalah melawan hawa nafsu, sementara yang radikal melawan yang “berbeda iman”. Tidak sedikit umat Kristen poligami dengan alasan Abraham dan tokoh lainnya juga poligami. Lagi-lagi soal tafsir bukan? Saya ingat betul, Tuhan Yesus berkata; Siapapun yang menampar pipi kananmu berilah juga pipi kirimu (Matius 5:39). Ajaran yang sangat damai, jauh sekali dari konflik, tapi herannya umat Kristen toh banyak yang konflik, bukan hanya antar agama, tapi antar umat. Belum lagi sejarah gelap gereja yang kita kenal dengan perang salib, perang resmi oleh gereja. Amat sangat konflik. Tapi ingat lagi, tak ada ajaran itu di Alkitab. Di agama lain juga, tapi lagi-lagi tafsir terhadap hal itu. Sayangnya, ketika mengatakan ada agama lain yang mengajarkan konflik, sdr. Setia tak menyebut kitab suci apa, dan di bagian mana, agar bisa jadi refrensi. Tapi jika tafsir, lain lagi. Saya bersyukur memiliki beberapa kesempatan menjadi nara sumber dalam dialog antar umat beragama.
Yang kedua, dikatakan di ajaran Tuhan Yesus tidak ada Allah, ini agak membingungkan. Tapi mungkin sdr. Setia adalah pemuja nama Yahweh, sehingga mengatakan tidak ada Allah (tetapi Tuhan). Tidak mengapa. Hanya saja, mengklaim Yesus tidak mengajarkan menjadi kurang pas dengan Alkitab. Pertama, dalam doa Bapa kami, Yesus mengajar murid menyapa Allah (Tuhan), dengan Bapa. Saya tidak tahu apakah ini salah atau tidak, karena seharusnya Tuhan, bukan Bapa (Yunani; Pater). Saya pribadi percaya, ajaran Tuhan Yesus ini benar 100%. Dan dalam Perjanjian Baru (PB), kata padanan untuk  Allah yang dipakai adalah Theos (bahasa Yunani, yang jelas berhala, karena politeisme). Untuk padanan Tuhan dipakai Kurios (yang juga bisa berarti; tuan). Dan Yesus sendiri disebut oleh Yohanes, murid-Nya sebagai Firman (Logos, yang merupakan istilah filsafat Yunani, jauh sebelum Tuhan Yesus berinkarnasi, baca; Yohanes 1:1-3). Dan juga dalam peristiwa Pentakosta, dikatakan para Rasul dipenuhi oleh Roh Kudus, dan mereka berbicara bahasa yang bukan bahasa mereka, salah satunya bahasa Arab, tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11). Silahkan dicari tahu dalam bahasa Arab, Tuhan itu disebut sebagai apa? Seingat saya; Allah! Dan ini diadopsi oleh bahasa Indonesia, yang memang banyak mengadopsi kata dari berbagai bahasa, seperti; Sansekerta, Arab, Belanda, Cina, dll. Apakah Roh Kudus salah memberikan bahasa Arab kepada para Rasul? Saya percaya pasti itu benar 100%. Entahlah, jika ada yang yakin itu salah. Dan soal bahasa, harus diingat, itu milik Allah dan dalam kekuasaan Allah penuh.
Dalam PL, dengan bahasa, Allah mengacaukan manusia yang sombong di peristiwa Babel (Kejadian 11). Mereka berusaha mencari Allah dan berpikir mampu (sifat agama). Allah berkata dengan tegas kepada Israel; Akulah Tuhan Allahmu (Keluaran 20:2), bukan Israel yang memilih Allah, tetapi sebaliknya. Sementara dalam PB, di peristiwa Pentakosta, umat sebaliknya, justru dipersatukan oleh bahasa. Luarbiasa karya Allah. Semoga di era kita jangan lagi terpecah karena soal bahasa. Dalam 1 Korintus 8:4, Paulus dengan tegas mengatakan tidak ada makanan berhala, semuanya milik Allah. Sama seperti kita sekarang, umat di Korintus juga terpecah, soal makanan berhala atau tidak. Sekarang bahasa, berhala atau tidak. Apakah ada pemilik bahasa selain Allah yang Pencipta segalanya. Semoga kita sama dengan ajaran Rasul Paulus, tidak ada berhala didunia ini, dan tidak ada Allah lain selain Allah yang Esa. Bahwa ada yang percaya berhala, milik berhala, itu pasti bukan Kristen, itu kata Paulus. Itu sebab dalam 10 Hukum dilarang menyembah illah yang lain. Bahwa ada agama lain percaya politeisme, jelas bukan Kristen, dan jangan ikuti ajarannya. Tapi, kasihilah mereka, jangan konflik, dan beritakan injil yang penuh kasih itu. Ditolak, tak mengapa, Tuhan Yesus bahkan disalib untuk itu, dan berkata ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).
Yang ketiga, dikatakan oleh sdr. Setia, bahwa Tuhan Yahudi 100% berbeda dengan Tuhan sejati Yesus Kristus. Ini bahkan sangat membingungkan. Cobalah kita perhatikan, peristiwa Zakheus menerima Yesus, dikatakan; hari ini telah terjadi keselamtan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Dalam Keluaran 3:6; Allah menyebut diri-Nya sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, bapak moyangnya Israel, yang kemudian dikenal dengan nama Yahudi (panggilan sejak di pembuangan, yang berasal dari kata Yehuda). Tuhan Yesus sendiri menunjuk Allah Yahudi, Allahnya Abraham, di kasus Zakheus. Lalu, Rasul Paulus yang dengan tegas mengatakan dalam Filipi 3:5; Aku disunat, Bangsa Israel, suku Benyamin, Ibrani asli. Terang benderang ke Yahudiannya. Orang Yahudi sendiri sangat keberatan dan marah dengan ucapan Yesus yang menyebut diri Nya sebagai Anak Allah orang Yahudi (bnd; Matius 26-27). Inilah yang dijadikan alasan utama penyaliban Tuhan Yesus. Jika beda, pasti tidak ada keributan bukan? Bahwa orang Yahudi yang menyalibkan Tuhan Yesus, itu betul, tapi jangan menyimpulkan Tuhan Yahudi beda dengan Tuhan sejati Yesus Kristus. Karena para rasul juga Yahudi, dan mereka percaya pada Allah yang sama, Allahnya Yahudi.
Soal jangan asbun, pasti kita semua sepakat. Tetapi, soal REFORMATA dianggap asbun dalam konteks ini, dengan senang hati kami kembalikan kepada pembaca, soal siapa yang asbun. Kami tak ingin terjebak konflik. Akhirnya, terimakasih atas interaksi sdr, Satia untuk REFORMATA agar tetap kritis. Berkat Allah menyertai kita. 



             

See Also

jQuery Slider
Top