Apakah Bileam Tukang Tenung Yang Dipakai Allah?

Author : Pdt Bigman Sirait | Wed, 7 November 2012 - 13:51 | View : 9325
Bileam tukang tenung.jpg

Pdt. Bigman Sirait

Mengapa Tuhan mau menghampiri Bileam dan menyatakan kehendakNya agar Bileam tidak mengikuti tawaran Balak, Raja Moab untuk mengutuki umat Israel? Padahal sudah pasti bisa, jika Tuhan mau, orang Moab gagal mengalahkan orang Israel tanpa harus melalui pernyataan khusus kepada Bileam.
Bukankah Bileam itu seorang peramal, tapi mengapa dia bisa memahami suara Allah untuknya?
Mengapa Tuhan membiarkan kisah ini dicatat dalam kitab Bilangan? Apakah Bileam dalam kisah ini menjadi peramal yang telah diubahkan untuk melakukan tujuan Allah?
Apakah di jaman kini, Tuhan masih bisa memakai orang yang tidak percaya agar dunia bisa percaya pada-NYa?
Terimakasih.
Antika, Bekasi

 

Antika yang terkasih! Pertanyaan kamu cukup menggelitik dan menantang untuk menalar kasus ini. Siapa Bileam? Dia adalah seorang jurutenung (Yosua 13:22), dan biasa menerima upah jasa dalam menenung seseorang (Bilangan 22:7). Namanya bisa berarti menelan atau pelahap, cocok dengan gambaran karakternya, yang selalu menerima upah untuk menyakiti orang. Dia akan melahap upah menenung, sekalipun akibat tenungannya ada yang jadi korban. Bileam cocok dengan gambaran para dukun santet, yang tidak segan-segan mensantet orang lain yang tidak dikenalnya, dan tidak punya urusan dengannya, demi uang. Dalam 2 Petrus 2:15, para guru palsu yang suka upah, dan selalu demi upah, digambarkan sebagai Bileam, istilah masa kini Bileam sindrom. Gila uang, pelahap uang, dan demi uang semua cara menjadi legal. Bileam anak Beor, dan tinggal di Petor dekat sungai Effrat.
Soal mengapa Tuhan mau berbicara dengan Bileam, padahal jika mau Tuhan bisa langsung mengalahkan Moab, selalu menjadi pertanyaan dalam banyak kasus. Tidakkah Tuhan juga mampu langsung mengeluarkan Israel dari Mesir, tanpa harus ada sepuluh tulah, dan tarik menarik dengan Firaun? Dan, mundur lagi ke Taman Eden, tidakkah Tuhan bisa langsung mengganti manusia dengan yang baru, daripada repot-repot menjalani karya penebusan diatas kayu salib? Dan, masih banyak lagi pertanyaan, mengapa. Sangat jelas, bahwa Tuhan tidak punya kesulitan melakukan apapun dengan cara apapun, mengingat bahwa Dia adalah yang Maha. Namun yang menjadi penting diperhatikan, justru adalah manusia yang seringkali tidak mampu memahami pekerjaan Tuhan. Apapun yang dilakukan Tuhan dalam berbagai cara, tidak lain agar kita bisa memahami tindakan-Nya.
Dalam kasus Bileam, Tuhan justru mau menunjukkan bahwa Bileam memang memiliki kemampuan menenung, dan telah menjadi sangat terkenal hebat. Raja Moab berharap Bileam bisa mengutuki Israel. Namun ternyata, lewat peristiwa ini kita belajar, bahwa Bileam, bahkan tidak bisa berkuasa atas dirinya sendiri di hadapan Allah Israel. Seluruh rencana Bileam bersama Moab berubah total. Bileam tak jadi pergi, bahkan ketika dibayar lebih banyak (Bilangan 22:17), padahal dia adalah sipelahap upah. Dan, sebaliknya dia menunjukkan betapa berkuasanya Allah yang mengatur dirinya (ay 18). Namun ketika Allah meminta dia untuk pergi, namun harus berkata sesuai perintah Allah, Bileam tak kuasa menolak (ay 20). Bahkan dalam perjalananpun Bileam mengalami peristiwa yang membuat dia tampak kecil dan tidak berdaya. Menarik bukan. Jadi bukan Allah membutuhkan Bileam, melainkan Allah menunjukkan betapa berkuasanya Dia, atas apapun, dan siapapun. Bukan sebaliknya.
Soal mengapa Bileam si tukang tenung bisa memahami suara Allah untuknya, akan menjadi misteri jika kita salah memandangnya. Ini bukan soal Bileam bisa mengerti Allah, melainkan sebaliknya, soal Allah mau berbicara dengan siapapun, maka orang itu akan mengerti karena kuasa Allah. Artinya tidak ada yang bisa menghalangi Allah dalam menyampaikan maksudnya. Jadi bukan masalah Bileam bisa mendengar dan mengerti, tapi Allah yang mau berbicara dan bisa memberi pengertian. Jelas sekali bukan Bileam yang hebat, melainkan Allah. Dia berbicara bukan hanya kepada Bileam, juga pada Firaun dalam kasus Abaraham, dan banyak peristiwa lainnya.  
Kisah Bileam, dicatat dalam kitab Bilangan untuk menjadi pelajaran penting bagi umat Israel pada masa itu, dan seluruh umat Allah pada masa kini, bahwa Allah berkuasa atas siapapun. Umat jangan takut kepada penenung, dukun, tukang santet, dan lainnya. Apalagi datang dan meminta pertolongan mereka akan menjadi murka  bagi Allah. Jangan lupa, dalam  kitab Musa juga diatur agar umat jangan pergi ke penenung dan sejenisnya, dan hukumannya sangat berat, yaitu kematian. Dalam kasus ini Bileam bahkan sebaliknya, dari niat mengutuki malah memberkati Israel, oleh kuasa Allah. (Bilangan 23). Balak protes berat, namun tak berdaya, bahkan Bileam mengucapakan kata kepada Balak tentang kebesaran Allah. Lagi-lagi, peristiwa ini menunjukkan bahwa semua  ada dalam kendali Allah, dan niat jahat musuh Israel dirubahnya menjadi berkat dan kesaksian besar.
Sementara Bileam tak pernah menjadi orang baik yang sesungguhnya, itu sebab Petrus di PB, menyebut penyakit pelahap upah sebagai Bileam. Jadi Bileam dicatat, dan tercatat, sebagai orang jahat yang tak berdaya terhadap kuasa Allah. Namun tidak pernah menjadi pengikut Allah yang sesungguhnya. Kelak Bileam mati dibunuh oleh bangsa Israel (Bilangan 31). Ingat, segala sesuatu (siapapun, apapun) bisa dipakai Allah untuk tujuan-Nya, namun belum tentu menerima berkat Allah. Khusus dalam kasus Bileam, dia dipakai untuk menyatakan kemahakuasaan Allah. Yang ironis dalam peristiwa ini justru ada orang Israel yang tidak setia. Mereka berzinah dengan perempuan-perempuan Moab, bahkan menyembah Baal-Peor, dewa Moab. Jadi, lawan yang menakutkan bagi Israel bukanlah musuh yang kuat, penenung yang hebat, melainkan diri mereka sendiri. Allah murka kepada Israel dan menghukum mereka. Israel lepas dari kuasa musuh, malah berbalik melawan Allah. Tak ada yang bisa menghalangi atau mencegah jika Allah yang bertindak. Dan semua yang terjadi ada dalam kehendak dan ijin-Nya.
Kisah Bileam mengajar kita, agar tak takut pada apapun, tetapi takutlah kepada Allah yang hidup. Allah bisa memakai apapun atau siapapun, namun itu tak berarti orang yang dipakai adalah orang yang diberkati (bdk. Matius 7:21-23).
Antika yang dikasih Tuhan, demikian jawaban yang bisa saya sampaikan. Kiranya  ini bukan saja menjadi pengetahuan tapi juga perenungan bagi kita dalam mengikut Tuhan yang hidup. Selamat melayani dan terus bertumbuh dalam iman yang sehat. Tuhan memberkati.

See Also

jQuery Slider
Top