Dosa Ditetapkan Oleh Allah?

Author : Pdt Bigman Sirait | Fri, 30 November 2012 - 11:40 | View : 3317
Dosa, Allah.jpg

Pdt. Bigman Sirait

Bapak Pengasuh yang baik,
 Saya bingung dengan masalah kejatuhan Adam ke dalam dosa. Apakah Allah sudah menetapkan dosa? Pernyataan yang sering saya dengar adalah segala sesuatu ditetapkan oleh Allah, tetapi dosa diijinkan oleh Allah. Inilah yang membingungkan.
Jika diijinkan, kapan peristiwa mengijinkan itu? Apakah pada saat peristiwa itu akan terjadi atau dari kekekalan? Jika pengijinan terjadi saat Adam makan buah, maka penetapan akan kematian Kristus juga ditetapkan saat itu juga sehingga kesimpulan saya adalah, Allah tidak merencanakan segala sesuatunya dari kekekalan, dan rencana Allah tidak tergantung pada Allah, tetapi pada situasi. Bagaimana memahami hal ini, mohon penjelasan Bapak?

Erik, Jakarta

 

Erik yang dikasihi Tuhan! Memang ini telah menjadi pertanyaan banyak orang. Penjelasan tentang Allah mengijinkan manusia berdosa, menurut hemat saya sangat jauh dari fakta Alkitab. Untuk itu, mari kita teliti satu demi satu menurut Alkitab tentang kejatuhan.
Pertama, adalah fakta bahwa Tuhan menciptakan manusia sempurna, segambar dan serupa dengan Diri-Nya (Kejadian 1:26-28). Dan, manusia diberi kuasa untuk mengelola kehidupan seluruh ciptaan lainnya. Bahkan Mazmur 8 berkata: “Engkau telah membuat manusia hampir sama seperti Allah!” Sebuah gambaran yang sangat terang benderang betapa sempurnanya manusia sebagai ciptaan. Dalam kesempurnaannya, manusia menerima ketetapan hukum Tuhan, karena manusia mampu memahami dan menjalaninya. Ini suatu kehormatan yang memanusiakan manusia, lebih dari ciptaan lainnya yang tidak ditetapkan sebuah hukum. Hanya pada manusia, karena dia penguasa bumi. Namun ingat, sebuah hukum pasti memiliki konsekwensi.
Kedua, adalah pertanyaan apakah Allah telah menetapkan dosa? Jelas, tidak! Allah tidak pernah menetapkan manusia untuk jatuh ke dalam dosa, juga tidak mengijinkannya, bahkan sebaliknya, Allah murka ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Yang ditetapkan Allah adalah hukum, yaitu: “Janganlah engkau memakan buah pengetahuan!” (Kejadian 2:16-17). Dan sangat jelas akibatnya, jika memakan maka manusia akan mati rohani dan jasmani, (berdosa, terpisah dari Allah, dari sumber hidup). Jadi manusia berdosa karena melanggar hukum Allah, dan bukan ditetapkan Allah, bahkan Allah menghukum manusia atas dosa yang diperbuatnya (bandingkan  1 Korintus 15:22). Mata Tuhan terlalu suci untuk melihat kejahatan, bagaimana mungkin Dia menetapkan atau mengijinkan (bandingkan  Habakuk 1:13). Bahkan Tuhan memalingkan wajah dari dosa dan kejahatan (Yesaya 59:1-2). Dan masih banyak catatan Alkitab lainnya.
Manusia jatuh ke dalam dosa karena tidak percaya kepada ketetapan hukum Tuhan, dan lebih percaya kepada godaan setan (Kejadian 3). Jadi, kejatuhan ke dalam dosa bukan karena ketidakberdayaan manusia terhadap setan, melainkan karena kekurangpercayaan manusia kepada Tuhan. Ketidaktaatan, itulah penyebab dosa. Bukan rancangan Tuhan.
Mengapa manusia bisa jatuh? Atau mengapa ada pohon? Bukankah itu bukti Tuhan terlibat? Itu gugatan banyak orang. Padahal persoalan ini sangat sederhana. Manusia bisa jatuh karena dia ciptaan, bukan pencipta. Malaikat pun bisa jatuh. Itu konsekwensi wajar ciptaan. Yang malah aneh adalah, jika manusia tidak bisa jatuh. Jadi Tuhan dalam mencipta manusia sempurna dalam ukuran ciptaan. Soal pohon, bukan masalah selama mentaati hukum. Yang jadi persoalan adalah, pelanggaran hukum, bukan pohonnya. Kita mengenal UUD, UU, dan KUHP, dan kita akan dihukum jika melanggarnya. Apakah semua perundangan yang ada itu salah? Jelas tidak! Bahkan dibutuhkan! Tapi melanggarlah yang masalah. Tuhan terlibat dalam dosa? Jelas tidak! Itu sebab, Dia menghukum pelanggaran yang membuahkan dosa. Tuhan justru merancang kehidupan sempurna dengan adanya hukum. Kejatuhan manusia bukan karena kurang sempurna, tetapi justru sebaliknya, tidak menghargai kesempurnaannya. Manusia sempurna dalam keterbatasannya sebagai ciptaan, tapi sayang, malah melanggar karena ingin tidak terbatas. Ironis bukan? Jadi wajarlah hukuman mati dari Tuhan kepada manusia.
 Jadi Erik yang dikasihi Tuhan, sekali lagi, Tuhan tidak menetapkan manusia jatuh ke dalam dosa. Penjelasan Alkitab sangat jelas, Tuhan benci pada dosa, dan menghukum mati. Jika Dia yang menetapkan, maka jelas ini melanggar hakekat Diri-Nya yang suci. Dia melanggar ketetapan-Nya  sendiri yang menghukum dosa. Logika ini sangat rawan bukan.
Tetapi, Tuhan memang merencanakan keselamatan, bahkan di dalam kekekalan (Efesus 1:1-14). Penting diingat, Tuhan merencanakan keselamatan, bukan kejatuhan. Dan, janji keselamatan itu dinyatakan ketika manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:15). Jelas janji keselamatan bukan by accident. Jangan lupa, Tuhan adalah Dia yang melampaui ruang dan waktu, yang maha dalam segala hal, yang tak terbatas, dan kekal. Karena itu rencana-Nya pasti juga kekal. Bukan sebuah reaksi spontan seperti manusia yang terbatas, yang tidak maha. Jadi ketetapan Tuhan adalah soal keselamatan, bukan kejatuhan.
Memang ada sebuah konsekwensi logis dalam berpikir filosofis, yaitu, jika Tuhan menetapkan keselamatan sebelum dunia dijadikan, bukankah itu berarti Dia juga yang menetap kan kejatuhan? Jika tidak, tentu tidak perlu ada ketetapan penyelamatan? Ini adalah pemikiran wajar. Namun, mari kembali ke Alkitab. Tidak sekalipun Alkitab mengatakan, atau bahkan mengindikasikan, bahwa Tuhan menetapkan dosa. Tapi bahwa itu bisa muncul dalam pemikiran manusia, sah-sah saja. Lalu bagaimana menjelaskan hal ini?
Tuhan menciptakan manusia sempurna, namun terbatas. Maka hakekat kesempurnaan manusia yang terbatas adalah: Manusia dicipta tidak berdosa (sempurna), namun bisa jatuh ke dalam dosa (ciptaan, terbatas). Jadi, kejatuhan adalah kemungkinan, tapi bukan ketetapan. Dan kemungkinan terjadi, bukan karena diijinkan, melainkan karena ketidaktaatan pada ketetapan yang ada. Dengan sangat mudah kita bisa memahami hal ini dengan gambaran manusia sebagai pencipta produk. Semua produk manusia tidak ada yang dirangcang untuk gagal, tetapi bisa gagal. Artinya , jika produk itu bisa gagal, tidak berarti ditetapkan gagal bukan? Bahkan diklaim sebagai tidak bisa gagal. Mungkin Anda akan berkata, itukan ciptaan manusia, bukan Tuhan yang sempurna? Baik, itu juga sederhana. Tuhan juga yang menciptakan hewan, tumbuhan, alam semesta. Apakah ada salah satunya yang jatuh kedalam dosa? Jelas tidak! Semua hanya terimbas dosa manusia. Mengapa manusia bisa jatuh? Jangan lupa, ciptaan canggih, konsekwensinya juga canggih bukan? Manusia adalah mahluk yang mampu berpikir, bahkan berkomunikasi dengan Tuhan. Keunggulan sekaligus kerawanan atas keunggulan, karena itu manusia yang tidak berdosa, bisa jatuh ke dalam dosa, karena manusia bukan robot.
Nah, inilah persoalannya Erik yang dikasihi Tuhan. Kita menggugat Allah sebagai Sang Sempurna yang tidak boleh gagal, lalu menerjemahkan kejatuhan manusia sebagai kegagalan-Nya. Sungguh tidak adil bukan. Padahal yang gagal adalah manusia, dan gagal dalam kemampuan untuk bisa tidak gagal, bukan tidak bisa tidak gagal. Jelas Tuhan tidak menetapkan, atau mengijinkan dosa, karena tidak sejalan dengan kesaksian Alkitab, dan pemahaman logis.
Kiranya ini boleh jadi perenungan dan berkat bagi kita semua. Selamat menikmati pergumulan teologis ini.
 

See Also

jQuery Slider
Top