MEMAKNAI SAKRAMEN SUCI

Author : Pdt Bigman Sirait | Tue, 30 April 2013 - 14:59 | View : 2120

Pdt. Bigman Sirait

Sakramen dalam iman Kristen adalah ritual yang krusial, sudah seyogianya umat memahaminya dengan benar. Sehingga umat tak mudah terombang- ambing oleh berbagai argumentasi yang tidak alkitabiah, sekaligus, terus-menerus melatih diri membangun dasar iman yang kokoh dan benar. Sakramen berasal dari bahasa Latin: Sakramentum. Dalam pemakaian sehari-harinya berarti, ikrar yang dinyatakan, dari, dan kepada, orang yang terlibat, dalam kerahasian tugas untuk tujuan mulia. Dan, juga sebagai sumpah setia tentara Romawi kepada kaisar dan kekaisaran, dalam menjalankan tugas mulianya. Jadi sangat jelas, kata Sakramen dipakai menunjuk sebuah pelaksaaan tugas mulia, dengan cara mulia, dan siap dipertanggungjawabkan sepenuhnya.
Dalam iman Kristen, ini menunjuk kepada upacara suci, pernyataan sikap iman, yang merupakan tanda lahiriah yang tampak, yang ditetapkan oleh Yesus Kristus sendiri, sebagai kepala gereja. Dan penetapan Yesus Kristus itu menunjuk kepada dua hal yang mencolok, yaitu pertama, perintah untuk menyelanggarakan perjamuan kudus (Matius 26:26-29, Markus 14:22-25, Lukas 22:15-20, 1 Korintus 11:23-25). Dan yang kedua, adalah perintah untuk menyelenggarakan Baptisan kudus (Matius 28:19-20, Markus 16:15-16, Kisah 2:38-39, Kolose 2:9-12). Kedua Sakramen ini ada di dalam gereja, bukanlah produk ritual gereja, melainkan perintah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Ini penting dipahami oleh umat Kristen, sehingga penyelenggaraan ritual Sakramen tidak berlangsung semaunya, melainkan sepenuhnya tunduk kepada ketetapan Alkitab.
Ada dua aspek yang patut dipahami, dan dipandang sesuai dengan maknanya masing-masing, yaitu hakekat dan cara. Hakekat Sakramen itu bersifat mutlak, sejalan dengan maksud Alkitab. Sementara cara, bersifat kontekstual, namun tidak lari dari apa yang dimaksud Alkitab. Perlunya hakekat dan cara Sakramen dipahami oleh gereja sepenuhnya, agar gereja tidak terjebak pada pertikaian yang tidak perlu. Karena dalam kenyataannya, pertikaian ini sudah terjadi, bahkan dibenturkan, sehingga menimbulkan perpecahan. Padahal, dengan jelas rasul Paulus berkata: Kalian masih duniawi (1 Korintus 3:3), menunjuk kepada pertikaian di dalam gereja Korintus. Pertikaian itu mengacu kepada klaim kelompok. Ada yang menyebut diri sebagai kelompok Apolos, Kefas, Paulus, dan juga Kristus (1 Korintus 1:12). Paulus menegur jemaat Korintus, dengan mengingatkan bahwa tubuh Kristus itu satu dan tidak terpecah. Inilah semangat  gereja yang sejati, yang seharusnya terikat dalam sakramen yang benar.
Hakekat Sakramen yang perlu dipahami adalah:  Bahwa ini perintah Tuhan Yesus sendiri! Artinya jelas:  Gereja tidak boleh meniadakan Sakramen dengan alasan apapun! Kecuali memang  gereja itu telah memilih sikap bukan pengikut Yesus Kristus, dan itu juga berarti, tidak seharusnya menyebut diri sebagai gereja.
Hakekat Sakramen Perjamuan kudus jelas: Yaitu mengingat kematian Yesus Kristus dalam menebus dosa manusia. Tubuh-Nya yang terpecah, dan darah-Nya yang tertumpah, jelas untuk mengingat kematiaan-Nya, agar kita sebagai umat hidup sesuai tujuan kematian-Nya. Kematian-Nya adalah keselamatan kita, karena itu umat jangan lagi gentar menjalani kehidupan ini. Memperingati Yesus Kristus, itu sangat jelas, jadi bukan kesempatan untuk mengingat diri, soal sakit atau ada persoalan. Ada banyak kesempatan lain untuk itu, tapi bukan Perjamuan kudus, yang sekali lagi jelas diperintahkan oleh Yesus Kristus: Untuk memperingati akan pengorbanan Yesus Kristus (Lukas 22:10, 1 Korintus 11:24-25). Kecuali umat menganggap bahwa hidup ini adalah melulu soal diri sendiri, dan bukan pengabdian diri.      
Begitu juga dengan hakekat Baptisan kudus, yaitu tindakan iman orang yang dewasa yang  menerima Kristus, dan mengikat diri kepada Tuhan Yesus Kristus. Juga, tindakan orang beriman mengikatkan anaknya kepada janji anugerah Tuhan. Rasul Petrus berkata tentang janji keselamatan, yang dinyatakan dalam yang kelihatan, yaitu baptisan, untuk orang dewasa (Kristen mula-mula) dan bagi anak-anak mereka (Kisah 2:38-39). Ini juga sangat jelas, yaitu tindakan iman orang dewasa yang baru mengenal Kristus, maupun tindakan orangtua yang beriman kepada Kristus. Baptisan bukan jimat, atau mandi suci, melainkan tindakan iman terhadap janji keselamatan oleh Tuhan Yesus Kristus.
Tentang Sakramen Perjamuan kudus, maupun Baptisan kudus, akan dibahas tersendiri secara mendalam dan komprehensip pada kesempatan berikutnya. Diharapkan, dengan pengantar ini umat sudah memiliki sebuah sudut pandang, sehingga dalam pendalaman tak lagi canggung mendalaminya.
Sementara soal cara Sakramen, ini juga sangat penting, karena seringkali menjadi biang keributan. Apakah Perjamuan kudus harus menggunakan roti, dan tidak boleh hosti? Dan jika roti, apakah harus yang beragi, dan tidak boleh yang tidak beragi? Dan, bagaimana jika didaerah pedalaman yang sulit, atau bahkan tak mengenal roti, termasuk hosti. Apakah tidak boleh ada pengganti lainnya? Belum lagi soal anggur. Apakah sari anggur (fresh juice), atau anggur yang fregmentasi, yang mengandung alkohol? Dan jika mengandung alkohol, apakah ada ketentuan kadar persen nya? Dan, kembali lagi, jika didaerah pedalaman yang tidak ada pohon anggur, apakah tidak boleh pengganti lainnya, yang dikenal didaerah itu? Belum lagi pembagiannya. Umat yang mendatangi pendeta, atau dibagikan kepada umat? Dan, jika diteruskan, hal ini bisa semakin panjang, dan sangat terbuka ruang untuk diperdebatkan. Apakah itu yang Tuhan mau? Perdebatan yang tak berujung.
Begitu juga soal Baptisan kudus. Apakah harus selam atau percik? Dan jika selam, di kolam atau sungai yang mengalir? Dan jika percik, 1 kali atau 3 kali percik, seturut dengan nama Bapa, Anak, Roh Kudus?  Lalu, Baptisan anak atau dewasa? Semua ini dipeributkan oleh gereja, dan ironisnya menjadi pemecah yang sangat efektif. Jika di waktu lampau ada orang yang dibaptis ulang karena percik, maka diselam. Sekarang, yang dibaptis selam juga dibaptis ulang, karena berbeda pendeta atau gerejanya. Ah, kemana gereja akan melangkah? Ada yang memutlakkan cara, harus selam! Ketika ditanya, jika ada seorang belum kenal Tuhan, terbaring di rumah sakit, dan harapan hidupnya menurut dokter sangat pendek. Dia dilayani, dan mau menerima Tuhan Yesus. Apakah harus diselam? Dan kita tahu itu tidak mungkin. Maka seorang hamba Tuhan menjawab, itu pengecualiaan. Tampakanya dia lupa pada pernyataan awal bahwa selam adalah kemutlakkan. Jika mutlak, artinya tidak ada pengecualian dengan oleh alasan apapun. Dan jika ini diteruskan, akan banyak hal yang juga sanga terbuka untuk diperdebatkan.
Akhirnya, harus dipahami, bahwa Tuhan Yesus sendiri tidak pernah memberikan perintah yang final soal cara. Masing-masing denominasi gerejalah yang memutlakkannya. Kita perlu membuka hati untuk tak gelap mata mewarisi para pendahulu. Melainkan, harus selalu kembali kepada perintah suci Tuhan Yesus Kristus sendiri, sebagai kepala gereja. Maka, jelaslah cara Sakramen tak ada kemutlakan disana sebagaimana hakekatnya yang mutlak. Namun, ini juga bukan berarti bisa semaunya, karena ada ukuran yang jelas, yang bisa diikuti, sebagaimana diajarkan Alkitab. Untuk itu, semua ini akan diurai dalam kesempatan berikutnya, sehingga menjadi terang benderang bagi kita sebagai tubuh Kristus.
Akhirnya, selamat menguji  diri, apakah kita sungguh sudah memahami makna keberimanan kita? Dan, sejatinya, apakah kita mencintai kebenaran Alkitab, lebih dari denominasi, sehingga tidak sekedar membeo kepada para rohaniawan yang belum tentu benar sepenuhnya. Benarlah apa yang dikatakan rasul Paulus: Uji segala sesuatu (1 Tesalonika 5:19-22). Termasuk, ujilah kebenaran tulisan ini!
Selamat menguji iman sendiri, dengan ukuran Alkitab, kebenaran yang sejati.  

See Also

jQuery Slider
Top