Karena Gay, Anak Pendeta Rick Warren Bunuh Diri?

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 3 June 2013 - 11:29 | View : 7542

Bunuh diri kerap mewarnai pemberitaan di media masa maupun elektronik. Bunuh diri sepertinya menjadi «fenomena.» Iya, bunuh diri bukanlah cerita baru. Yudas misalnya di Perjanjian Baru juga bunuh diri setelah berkhianat, menjual Yesus. Bunuh diri masih dijadikan solusi untuk menyelesaikan masalah. Padahal setiap ajaran agama melarang bunuh diri. Dalam pandangan Kristen, bunuh diri adalah perbuatan yang tidak patut.
Namun demikian, walau dilarang, faktanya kasus bunuh diri mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di Indonesia angka bunuh diri mencapai 1,6 hingga 1,8 per 100 ribu jiwa. Apa biasanya penyebab orang bunuh diri? “Penyebab bunuh diri disebabkan karena tekanan hidup.” Di Jepang, orang kebanyakan melakukan bunuh diri untuk memperlihatkan kesetiaannya ataupun sebagai cara untuk mempertahankan harga dirinya, istilahnya harakiri.
Lalu bagaimana kalau anak pendeta top bunuh diri? Anak pendeta Rick Warren, Matthew yang tewas bunuh diri pada Jumat (5/4) lalu menjadi topik pembicaraan yang meluas di jejaring sosial seperti twitter. Salah satu spekulasi yang mengemuka adalah bahwa anak bungsu pendeta Gereja Saddleback Valley Community itu bunuh diri akibat depresi, bahkan ada yang menyebut Matthew seorang gay.
Apakah tuduhan ini benar? Sangat disangsikan. Tetapi, salah satu pemicu spekulasi bahwa Matthew seorang gay adalah, karena pernyataan Rick Warren yang selalu anti pada orang Gay. Penyebab itulah yang membuat mayoritas tweepers terpancing berspekulasi sesuai dengan pandangan mereka masing-masing.
Menurut mayoritas tweepers, Matthew mengalami depresi dan tekanan jiwa akibat kenyataan dirinya adalah anak seorang pendeta besar dan juga ayahnya adalah pemuka agama yang gencar mengecam pernikahan sesama jenis. Bahkan Gereja Saddleback mendukung Proposition 8, sebuah rancangan perubahan yang diusulkan bagi konstitusi di California untuk melarang pernikahan sesama jenis.
Rick Warren yang menentang gay dan pada akhirnya justru seperti «menyetir» pandangan hidup anaknya Matthew yang kemungkinan adalah seorang gay. Ketidakbisaan Matthew terhadap fakta dan kenyataan inilah yang ditenggarai menjadi penyebab anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut menembak dirinya sendiri.
Namun, sejak dahulu hingga kini tidak ada indikasi yang memperlihatkan bahwa Matthew adalah seorang gay. Belum dapat dipercaya. Walau banyak blog gay yang memuat artikel mengenai Rick Warren, namun karena dirinya yang seorang anti homoseksual, bukan soal anaknya. Sementara itu banyak tweepers lainnya yang menggunakan kata-kata tajam dan menyebut bahwa hal ini terjadi karena «karma» menimpa Rick akibat dirinya yang anti homoseksual.
Selain mereka yang berspekulasi dan menyalahkan Rick, banyak dari tweepers yang berbela sungkawa dan mengucapkan secara langsung kepada Rick melalui akun resminya. Spekulasi hanyalah sebatas wacana yang belum dapat diverifikasi kebenarannya. Ketimbang berasumsi, lebih baik kita menjadikan kejadian ini sebagai pengalaman berharga untuk menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan berjalan atas FirmanNya.
Berkabung itu sulit
Rick Warren menyatakan betapa sulitnya menghadapi isi surat elektronik dan komentar di dunia maya yang ia baca sejak Matthew Warren, putranya, meninggal akibat bunuh diri itu. Warren menulis, “Berkabung itu sulit. Berkabung sebagai tokoh masyarakat, lebih sulit. Berkabung ketika para pembenci merayakan kesedihanmu, adalah yang tersulit.”
Menurutnya, Matthew memiliki kecerdasan cemerlang serta peka terhadap kebutuhan orang lain. Perkabungan akibat kehilangan seseorang yang dikasihi adalah perjuangan yang tidak mudah. Ada baiknya kita mengasah kemampuan untuk menempatkan diri di posisi orang yang sedang berduka, dan tidak menghakimi.
Kesedihan karena ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh putera tercinta Matthew tak membuat Rick Warren menjadi orang yang tertutup dengan keadaan sekitar. Buktinya, tak lama peristiwa bom Boston Marathon terjadi, Senin (15/4) waktu setempat, penulis buku populer The Purpose Driven Life ini langsung mengajak para followers twitter-nya untuk berdoa bagi Boston.
Tidak hanya mengajak doa, suami dari Kay Warren tersebut juga menginformasikan pada para pengikut situs mikrobloggingnya bahwa salah seorang sepupunya yang ikut pada saat pemakaman Matthew juga ikut serta dalam perlombaan Boston Marathon. “Seorang sepupu yang menghadiri pemakaman Matthew juga berlari di Boston Marathon  hari ini. Istrinya duduk di bagian (tidak jauh dari bom meledak, red) tersebut. Keduanya OK,” tweet Rick Warren lagi beberapa jam kemudian.
Siapa Rick Warren?
Dia lahir dengan nama, Richard Duane Warren, 28 Januari 1954, San Jose, California, Amerika Serikat. Dia seorang pendeta Kristen evangelis Amerika dan penulis. Dia pendiri dan pendeta senior dari Gereja Saddleback, sebuah megachurch evangelis terletak di Lake Forest, California, saat ini gereja terbesar kedelapan di Amerika Serikat.
Sebagai seorang penulis buku laris banyak buku-buku Kristen, termasuk panduan untuk pelayanan gereja dan penginjilan, The Purpose Driven Church, yang telah melahirkan serangkaian konferensi tentang pelayanan Kristen dan penginjilan. Dia mungkin paling dikenal untuk renungan berikutnya The Purpose Driven Life yang telah terjual lebih dari 30 juta kopi, membuat Warren York penulis buku laris Times New.
Warren memegang pandangan teologis konservatif dan memegang pandangan evangelikal tradisional tentang isu-isu sosial seperti aborsi, pernikahan sesama jenis, dan penelitian sel induk embrio. Warren telah meminta gereja-gereja di seluruh dunia untuk juga fokus pada upaya memerangi kemiskinan dan penyakit, memperluas kesempatan pendidikan bagi terpinggirkan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Selama Amerika Serikat pemilihan presiden 2008, Warren menjadi tuan rumah Forum Sipil Presidency di gerejanya dengan kedua calon presiden, John McCain dan Barack Obama. Obama kemudian memicu kontroversi ketika ia meminta Warren untuk memberikan doa pada pelantikan presiden pada Januari 2009.
Rick Warren juga dianggap salah satu dari Amerika Top 25 Pemimpin  di 31 Oktober 2005, edisi US News and World Report. Warren disebut oleh majalah Time sebagai salah satu dari “15 Pemimpin Dunia yang paling penting di tahun 2004” dan salah satu dari “100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” (2005). Tahun 2006 Newsweek menyebut dia salah satu dari 15 Orang yang Membuat America Besar. Pada bulan Desember 2008, Presiden terpilih Obama memilih Warren untuk memberikan khotbah pada acara pelantikannya.  
?Hotman Lumban Gaol/
diolah dari berbabagi sumber
 

See Also

jQuery Slider
Top