REFORMASI TIADA HENTI

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 4 November 2013 - 13:52 | View : 2084

Pdt. Bigman Sirait

Follow @bigmansirait

Reformasi memiliki makna pembaharuan, seperti yang dikumandangkan Roma 12:2, pembaharuan budi. Pembaharuan yang menghasilkan perubahan. Dan perubahan itu sendiri terus bergerak akibat pembaharuan yang terus-menerus. Semboyan Reformasi yang sangat terkenal, berkata:Ecclesia Reformata Semper Reformanda, yang berarti, gereja adalah pembaharuan yang terus-menerus. Tak boleh berhenti, karena ketika pembaharuan itu berhenti, itu adalah lonceng kematian bagi gereja.
Reformasi menjadi nafas gereja dalam memurnikan dirinya menuju penggilan tertinggi, yaitu menjadi sempurna sama seperti Bapa sempurna (Matius 5:48). Karena itu Reformasi adalah hakekat gereja, dan menjadi perjuangan yang tiada henti. Gereja harus terus-menerus diperbaharui, bukan supaya up date dengan trend dunia, melainkan seperti tuntutan Alkitab, menghadirkan kebenaran yang seutuhnya di tengah perjalanan dan perlawanan jaman. Ini menjadi amat sangat penting disadari oleh gereja yang seringkali sangat bersemangat untuk tak ketinggalan dengan dunia, lalu berjalan bersanding dengan dunia. Tak rela dinilai tertinggal di hutan rimba, gereja dengan entengnya menerima homoseksual sebagai sesuatu yang benar. Ini hanyalah sebuah contoh, dari sekian kenyataan yang menyakitkan. Sementara gereja yang menolak, seringkali bukan karena memahami seutuhnya, dan menjalankan sepenuhnya kebenaran Firman, melainkan terkontaminasi di  sisi yang lainnya, seperti uang yang didewakan. Reformasi harus melalui kerikil tajam disana sini.
Sementara Transformasi adalah produk Reformasi yang terlihat, terukur, teruji, dan terpuji. Transformasi menjadi bukti berjalannya Reformasi digereja. Jelas, semangat  Reformasi amat sangat penting dan harus terus ditumbuhkembangkan. Sehingga, perubahan gereja menuju kesempurnaan yang dituntut oleh Yesus Kristus kepala gereja, teraktualisasi dalam kehidupan ini. Reformasi dan Transformasi tak boleh terjebak dalam ajang diskusi, atau gagah di retorika khotbah saja. Ini penting disikapi, karena kecenderungan gereja berada disana amat sangat besar. Menjadi gereja yang memanggil nama Yesus Kristus, meninabobokkan gereja, seakan sudah benar. Padahal, dengan sengit Tuhan Yesus Kristus sendiri berkata: Bukan setiap orang yang berseru Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga (Matius 7:21). Melakukan kehendak Bapa, menjadi sempurna sama seperti Bapa sempurna, harus terus menjadi kerinduan tiada henti, itulah Reformasi sejati, itulah kehidupan gereja.
Sangat jelas perbedaan Reformasi dan Transformasi. Gereja dipanggil untuk mereformasi diri agar menghasilkan transformasi kehidupan. Bukan sekedar transformasi yang bisa bergerak liar, berubah seturut dengan perubahan jaman. Berubah bukan karena Reformasi yang berpusat pada Alkitab, melainkan perubahan asesoris, seperti pola ibadah, alat musik, maupun jenis pelayanan, dan  lainnya. Namun tampaknya, banyak gereja yang gagap memahami dan melakoni Reformasi dan transformasi. Menganggap ringan, menyamakan saja, tanpa mampu melihat perbedaan yang prinsipil disana. Disinilah gereja seringkali terjebak tanpa pernah merasa terperangkap. Ah, ironisnya!
Dalam sejarah Alkitab dan gereja, Reformasi datang silih berganti, tiada henti. Ada waktu dimana gereja sepi, karena terlena dengan dunia. Lalu genderang perang terdengar dan terjadilah perang nilai yang sengit antara dunia dan gereja. Ini terjadi ketika kesadaran Reformasi terbangun dan bekerja sebagaimana mestinya. Sejatinya, realita ini cukup menjadi pembelajaran bagi gereja agar tidak terlena dan tertidur dalam pencapaian organisasi dan materi yang sangat kuantitatif. Semangat Reformasi harus terus berkumandang dan diwujudnyatakan.
Di era Musa, perjalanan kemerdekaan Israel yang lepas dari perbudakan Mesir, menunju Tanah Perjanjian, menjadi semangat hebat. Semangat yang membara karena lepas dari aniaya dan siksa perbudakan. Menemukan kembali harga diri yang terhilang, dan kini terbentang jalan pengharapan. Sebuah semangat yang dapat dipahami sepenuhnya setelah menderita dalam bilangan tahun yang sangat panjang. Mereka kini mengalami transformasi kehidupan yang sangat krusial. Namun menjadi sebuah pertanyaan, apakah mereka juga menjalani Reformasi yang aktual? Sejarah saksinya.
Di perjalanan Israel, padang gurun menjadi saksi ketangguhan Israel. Enam ratus ribu laki-laki dewasa, belum termasuk perempuan dan anak-anak, sebuah jumlah besar yang akan sangat sulit pengelolaan logistiknya, baik sandang, pangan, dan papan. Namun mujizat terjadi hari demi hari, sehingga kebutuhan seluruh umat Israel terpenuhi, bahkan mereka tercatat memenangkan berbagai perang di sepanjang perjalanan. Realita yang mencengangkan. Tiang awan, tiang api, menjadi bukti penyertaan yang tiada henti sepanjang hari perjalanan Israel. Sebuah pergerakan eksodus yang tiada duanya disepanjang sejarah bangsa-bangsa di  kolong langit ini. Dan semakin tidak terbayangkan di masa yang akan datang, sekalipun teknologi meninggi, namun daya tahan kehidupan tak akan mengimbangi. Tapi ternyata, transformasi perbudakan ke kemerdekaan, tak serta merta mereformasi kehidupan Israel.
Dalam perjalanan spektakuler ini, tercatat tiga peristiwa besar pemberontakan Israel sehingga mereka ditulahi Tuhan, dan memakan korban lebih dari limapuluh ribu jiwa. Mengapa? Status mereka memang berubah, tapi tidak hatinya. Pola hidup yang salah tetap menempel pada keseharian mereka, sangat menyedihkan. Ini menjadi tugas utama Musa, untuk mereformasi pemahaman umat dalam ber-Tuhan.  Lama mereka diperbudak, teranya telah menjadi penyakit sosial. Bukan hanya fisiknya, tetapi juga moral spritualnya diperbudak warna Mesir. Penyembahan berhala, dan bukannya penyembahan pada Allah yang benar, mewarnai perjalanan mereka. Sehingga tak heran, peringatan keras dalah 10 hukum diawali tentang hal ini. Ini menjadi penyakit manusia di sepanjang masa, penyembahan berhala, yang bergerak dari patung kepada uang.
Reformasi Musa berlangsung ketat, bahkan seringkali membuat Musa merasa frustasi. Dan puncaknya, Musa sampai membuat kesalahan, memukul batu yang Tuhan perintahkan cukup bicara. Musa terhukum karenanya. Namun perjalanan 40 tahun, telah menjadi periode penyaringan yang luar biasa. Israel membentuk generasi baru, dengan spiritual dan moral yang baru. Sebuah perubahan besar, bukan hanya perubahan generasi  tapi kualitas rohani. Sebuah Reformasi yang melelahkan, namun itulah realita Reformasi, tak pernah mudah, dan tak pernah pendek, karena memang bukan periodik, melainkan sepanjang masa. 40 tahun Reformasi itu mencapai puncaknya. Generasi baru di bawah kepemimpinan Yosua hasil dari sebuah Reformasi di era Musa, menginjakkan kakinya di tanah perjanjian. Ini sangat fantastis, sekaligus menjadi peringatan, supaya gereja tak menggampangkan pemaknaan dan perjalanan Reformasi.
Ketika Yosua meneruskan tampuk kepemimpinan Musa, di  pidato perpisahannya, di usia tuanya, Yosua menggugat bangsa Israel, agar bersikap tegas, memilih kepada siapa mereka akan beribadah. Dengan lantang Yosua meneriakkan, bahwa dia dan keluarganya akan beribadah kepada Allah Israel (Yosua 24:15). Sebuah Reformasi yang menggenerasi, dari Musa ke Yosua.
Bagaimana dengan Reformasi di gereja? Jangan-jangan hanya tinggal nama? Jawabannya ada pada kita masing-masing. Selamat Hari Reformasi, selamat  merenung, dan menggugat diri.

See Also

jQuery Slider
Top