Ajaran Yesus Kristus Panteisme?

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 5 May 2014 - 11:54 | View : 3427
Panteisme`.jpg

Pdt. Bigman Sirait

Follow Twitter @BigmanSirait

Syalom Pak Bigman,

Saya pernah mendengar pernyataan Bapak yang mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang telah dipengaruhi oleh  ajaran Pantheisme. Yang artinya allah ada dimana-mana, namun dalam pengertian allahnya ada banyak termasuk allah ada di dalam diri kita sendiri yang adalah allah-allah kecil.
Pertanyaan saya, kalau memang Bapak tidak setuju dengan ajaran tersebut yang telah menodai ajaran kekristenan yang sejati, lalu apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia mengatakan bahwa manusia adalah “allah” (Yoh 10:34) ? Apakah yang dimaksudkan Yesus ini berarti memang benar bahwa kita adalah allah-alah kecil juga, lalu mengapa Bapak menggugatnya? Mohon penjelasannya Pak, terimakasih.Tuhan memberkati.

Hendrik Manopo – Tomohon

Syalom juga Hendrik yang dikasihi Tuhan. Sebuah pertanyaan yang perlu dalam mendalami hakekat diri manusia, terutama kita sebagai orang percaya. Bagaimana Alkitab menggambarkan manusia, dan apa yang kemudian menjadi perbedaan pahamnya.
Panteisme, meyakini bahwa allah itu ada banyak, dan berada dimana-mana. Ini sangat berbeda dengan paham iman Kristen yang meyakini Allah itu Esa, namun Maha Hadir, ada dimana-mana. Dimana-mananya Allah, adalah keMaha-an Nya dalam kehadiran. Allah itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, Dia melampaui ruang dan waktu. Keberadaan Nya yang tidak terbatas, sangat berbeda dengan manusia yang satu, tapi terbatas. Manusia dikurung oleh ruang dan waktu, sehingga hanya bisa berada disatu tempat, dan tidak bisa berada diberbagai tempat pada waktu bersamaan. Manusia tidak maha hadir dalam keberadaannya.
Menurut Panteisme, segala sesuatu, dan manusia, bukan merupakan substansi yang independen, melainkan refleksi dari “Yang mutlak”. Jadi semua yang ada, dan manusia, identik satu dengan yang lainnya, juga dengan dengan allah yang menjadi sumbernya (refleksi allah). Sehingga semua manusia semua sama, refleksi allah, ada allah, adalah allah, dalam dirinya. Padahal, nyatanya, manusia tidak sama satu dan lainnya, unik, independen. Ada berbagai variasi pandangan para filsuf dalam paham Panteisme, namun kita berbicara secara umum saja. Jadi sangat jelas, paham yang mengatakan diri tiap pribadi adalah  allah, adalah Panteisme.
Dalam Alkitab, manusia adalah ciptaan Allah yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26), namun bukan Allah. Dalam adanya manusia terbatas, Allah tidak, dan banyak aspek lainnya. Serupa dalam potensi, namun tidak sama dalam hakekatnya. Manusia adalah makhluk pencipta, dari ada menjadi ada yang lain. Allah juga pencipta, tapi dari tiada menjadi ada. Ini gambaran, serupa tapi tak sama nya. Adam jatuh kedalam dosa, karena justru ingin menjadi sama dengan Allah, sehingga membawa manusia kedalam hukuman maut (Kejadian 3). Ingin menjadi sama dengan Allah, jelas tidak sama hakekatnya, maka ingin menjadi sama. Akibatnya, jelas, mati! Jadi amat sangat jelas, bahwa Alkitab tidak sedikitpun menggambarkan konsep Panteisme, bahwa manusia adalah “allah”.  Perbedaan allah dengan manusia (bahwa manusia bukan Allah), sangat jelas di Alkitab, baca; Bilangan 23:19, Ayub 33:12. Yehezkiel 28:2, dengan tegas mengatakan engkau adalah manusia, bukan Allah. Jelas sekali beda. Begitu juga dalam PB, terlalu banyak bagian Alkitab yang menjelaskan bahwa manusia bukan Allah. Paulus berkata tegas, dalam 2 Timotius 6:16; Bahwa Allah tidak terhampiri, dan memang manusia tidak dapat melihat Allah. Apalagi sama, jauh sekali. Beda sekali dengan konsep Panteisme.
Lalu, dalam Yohanes 10:34, apakah betul Yesus mengatakan bahwa manusia adalah allah pada dirinya? Sama dengan Panteisme? Jika; ya, berarti Yesus Kristus berlawanan dengan PL maupun PB. Apakah mungkin? Yang paling mungkin salah, tentu saja kesimpulan yang kita buat bukan? Dalam Yohanes 10:22-39, merupakan pembicaraan antara Yesus Kristus dengan orang-orang Yahudi yang menuduh Dia menghujat Allah, dan menyamakan diri dengan Allah (33). Lalu Yesus menjawab dengan mengutip Mazmur 82, yang mengisahkan tentang murka Allah pada para pemimpin rohani yang diberi kepercayaan, ternyata menyelewengkan kuasa mereka untuk bertindak lalim, memihak pada orang fasik. Sehingga ayat 6, kata “allah”, menunjuk kepada mereka yang menerima wewenang dari Allah, yang disebut anak-anak yang maha Tinggi (penerima tugas), bukan menunjuk bahwa mereka allah. Tekanan kata jelas pada kata AKU. Siapakah para pemimpin rohani itu? Para imam, orang Yahudi yang diberi tugas. Sehingga dalam diskusi di Yohanes 10:22-39, Yesus menunjuk mereka yang melawan Nya sama dengan seperti yang digambarkan Mazmur 82. Bagi orang Yahudi, dengan mudah mereka memahaminya, karena mengerti kitab Mazmur. Sementara bagi kita, pembaca masa kini, perlu memahami dulu maksud Mazmur 82, barulah kita mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus Kristus.
Jadi sangat jelas, Tuhan Yesus Kristus, tidak sedang mengatakan bahwa manusia adalah allah pada dirinya. Jelas sekali Yesus tidak mengajarkan paham Panteisme. Bahkan sebaliknya, dengan keras Yesus berkata (ay 36); Masih saja kamu berkata ke pada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus Nya kedalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku adalah Anak Allah. Jawaban Yesus Kristus sangat jitu, dan menusuk, karena dengan demikian, Dia mengingatkan betapa orang yang berdebat dengan Nya mengulang kesalahan seperti dalam Mazmur 82, berlaku lalim. Dan, yang mereka hakimi adalah Yesus Kristus Tuhan. Penting sekali memang perikop yang ada diperhatikan lengkap, juga apa yang menjadi latar belakangnya. Alkitab memang sangat luar biasa.
Akhirnya, saudaraku Hendrik yang dikasihi Tuhan, jelas Kristen berbeda dengan Panteisme, bahkan bertolak belakang. Alkitab berkata; manusia adalah ciptaan Allah yang berontak, dan menuju kebinasaan (Roma 3:9-20), tapi oleh Panteisme malah diangkat menjadi sama dengan Allah.
Selamat menikmati kebenaran Alkitab, Tuhan memberkati kita. Soli Deo Gloria.    

 

See Also

jQuery Slider
Top