Suara Pendeta, Suara Allah?

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 7 July 2014 - 12:32 | View : 2540

Pdt. Bigman Sirait

Follow Twitter @bigmansirait

Tiap kali ada bencana alam, hiruk pikuk kehidupan, kini, bagai sebuah trend, pendeta jadi pusat bertanya. Celakanya, bagai gayung bersambut, para pendeta juga cukup gencar untuk berucap; Allah berkata kepada saya. Ah, agama berubah seperti dunia gaib dengan pesan-pesan gaib. Dan ini melanda semua agama. Realita ini dalam lingkup ke Kristenan semakin hari semakin meresahkan. Sementara jemaat yang semakin kehilangan daya kritisnya semakin tak bernyali untuk menguji segala sesuatu seperti yang diajarkan Alkitab. Bagai kerbau dicocok hidung, semua tergiring ke ruang salah yang jauh dari petunjuk Alkitab. Begitu pula dalam hiruk pikuk politik, pemuka agama berbaris menjadi penyampai pesan surga. Anehnya, surga hanya satu, tapi pesannya berbeda satu dan lainnya. Tapi, sekali lagi, jemaat tetap saja tak teliti. Inilah realita agama yang jadi tontotan para cedekiawan.


Rasul Paulus dengan jelas mengatakan agar umat tak mengabaikan karunia Roh, namun juga tak menerimanya mentah-mentah. Paulus berkata; Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik, agar umat terhindar dari kejahatan (1 Tesalonika 5:19-22). Kejahatan adalah, ketika menerima begitu saja ucapan para rohaniawan yang mengatas namakan Tuhan. Hamba Tuhan, bisa berkata benar hari ini, dan besok berkata salah. Semua sangat tergantung dengan relasi pribadi nya dengan Tuhan. Itu sebab, umat diminta teliti dan menguji. Ingat; hamba Tuhan bukan Tuhan! Tuhan tak mungkin salah, tetapi hamba Tuhan sangat mungkin salah, bahkan merencanakannya dengan sengaja, memalsukan pesan Tuhan. Betapa pentingnya sebuah ketelitian dalam keberimanan. Disinilah keunggulan iman Kristen, cermat, ketat, sehingga tak tersesat. Sebaliknya pikiran Kristen harus mampu menjadi alat koreksi.


Dalam Alkitab, jejak pemalsuan pesan Tuhan sangatlah jelas. Ada tiap generasi. Di era Israel, kembali dari perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian, kita mengenal Bileam, si nabi bayaran. Nabi ini akan bernubuat sesuai bayaran yang diterimanya, betapa jahatnya. Begitu pula dengan rohaniawan masa kini yang sangat menyukai pundi-pundi. Uang selalu punya daya tarik yang tak pernah luntur. Tak sedikit pendeta yang mengobral “pesan Allah” demi setumpuk materi. Tampaknya trend ini melanda banyak politisi Kristen, yang yakin maju karena nubuatan para rohaniawan. Pertimbangan logis diabaikan, dan dianggap kurang iman. Kritik dipandang sebagai suara setan. Ah, gelapnya! Tapi itulah kenyataan suramnya keagamaan. Semua ini menjadi “tontonan yang mencengangkan”


Yeremia, nabi di era pembuangan Yehuda, mengingatkan umat di pembuangan, betapa para nabi telah bernubuat palsu. Nubuatan mereka memang menyenangkan, cenderung membesarkan hati. Di masa penyerangan Babel, yang memang telah dikatakan Tuhan lewat para nabinya, nabi palsu berkata agar Yehuda jangan menyerah, tapi melawan Babel (Yeremia 27:14). Pesan nabi ini dianggap sebagai berita positif, berbeda dengan Yeremia yang dianggap berpikir, dan menyampaikan pesan yang negatif. Maka umatpun memberi telinga pada para nabi palsu ini, dan mengabaikan pesan benar dari Tuhan lewat Yeremia. Tuhan hanya dijadikan alat legalitas atas kehendak manusia. Berita positif dianggap benar, sekalipun positif tidak sama dengan benar. Amat sangat berbeda! Positif memang menyenangkan rasa kemanusiaan, tapi bukan kebenaran. Simaklah ucapan rasul Paulus yang berkata kepada umat di Filipi (1:29); Kepadamu dianugerahkan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. Sangat negatif bukan! Dan karena tidak positif banyak orang Kisten tidak menyukai ayat ini, sekalipun ini berasal dari kitab suci. Aneh, tapi nyata!


Realita dalam Alkitab, diera para nabi yang menjaga kesucian kehidupannya, yang dipakai Tuhan menuliskan kitab suci, kepalsuan sudah merajalela. Maka, tidaklah mengherankan jika saat ini berseliweran argumentasi asburd atas nama suara Allah. Yang ada, bergairah kepada fasilitas, dan kenikmatan duniawi, kekuasaan, maka suara Allah dijadikan alat legalitas untuk memilikinya. Tak kurang orang yang mempertaruhkan panggilan kehambaannya sebagai pelayan Tuhan. Bahkan ada yang dengan berani menanggalkannya, bagai mengganti pakaian. Tak ada rasa hormat atas panggilan Tuhan, seperti Esau yang tak peduli dengan hak kesulungannya. Semakin hari semakin sulit menemukan pemimpin rohani yang berintegritas.


Sehingga tak mengherankan ketika banyak pendeta menjadi caleg, bukan saja dari partai nasionalis, bahkan partai Islam. Tak jelas apa yang menjadi tujuannya. Sebagian mengatakan ingin memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa. Terasa sangat mulia. Tapi, tampaknya semua pada lupa, bahwa banyak warga muda gereja yang memang sekolah khusus untuk bidangnya, dan mumpuni pengetahuannya untuk berpolitik. Panggilan para pemimpin gereja adalah untuk mempersiapkan, melengkapi, dan mengutus generasi muda, untuk mewakili suara umat di panggung politik. Dan, para pemimpin gereja tetap bisa memainkan perannya, sebagai pengawas moral dan agen perubahan. Generasi muda maju, dan bisa mencapai hasil optimal sebagai suara kebenaran. Sayang, yang terjadi sebaliknya, para pemimpin gereja justru menyalib dan mematikan karier mereka. Menciptakan kegelapan digereja, karena pendeta meninggalkan posisinya sebagai imam, yang adalah panggilan mulia. Mereka menjadi politisi yang miskin pengetahuan, mudah diombang ambingkan. Masa yang gelap mata mendukungnya menuju titik nadirnya. Sementara generasi muda tak mendapatkan posisinya, karena keahlian mereka kalah dengan gemerlap tipu daya, dari kata-kata, hingga taburan rupiah. Inilah realita gereja yang menyedihkan.


Disini suara Allah menjadi barang jajaan yang laris manis. Dengan mudahnya seorang pendeta berkata; Tuhan mengatakan pada saya untuk mengerjakan ladang politik, dan melepas ladang gereja. Ah, betapa naifnya. Belum ada di Alkitab nabi atau rasul yang dipanggil Tuhan untuk meninggalkan pelayanan, dan menggantinya dengan politik. Yang ada, Amos sang peternak dipanggil menjadi nabi. Begitu pula para rasul, diminta meninggalkan pekerjaan nelayan untuk menjadi penjala orang. Bahkan Matius si pemungut cukai yang berpenghasilan besar, dipanggil untuk menjadi murid Yesus dengan melepas seluruh kenikmatan kariernya. Sekarang, semua berlangsung terbalik. Yang celaka, umat tetap saja percaya! Dan, keberhasilan kuantitas dibuat menjadi legalitas. Umat semakin tidak kritis, bahkan cenderung menjadi pendorong kerusakan yang semakin menggila didalam gereja. Siapa yang mencintai kebenaran sepenuhnya, seharusnya bangun dan melawan penyelewengan ini.  Berteriak, walaupun sendirian. Jangan pernah berhenti, itulah panggilan mulia bagi seorang Kristen.


Disisi lain, ada juga rohaniawan yang tetap diposisinya, tapi menjualnya untuk sebuah transaksi. Sehingga gereja tak lagi membela yang benar, tapi tergoda membela yang bayar. Politik transasional mewarnai pilihan institusi agama, termasuk gereja didalamnya. Karena itu tak mengherankan jika kehidupan semakin terasa gelap, karena gereja telah kehilangan terangnya. Dipanggung politik, dalam pemilihan Presiden, apakah kita mendengarkan suara rakyat, suara murni, yang tidak terkontaminasi tawaran materi. Perlu kejujuran dan kepekaan. Gereja harus semakin bersinar dengan keberpihakan pada kebenaran, dan bukan orang perorang. Ingat yang hari ini benar, besok bisa salah, begitu juga sebaliknya. Maka, catatan kehidupan yang oleh gereja disebut kesaksian  hidup perlu menjadi pusat perhatian.


Akhirnya, suara pendeta bukan suara Allah, sekalipun Allah bisa memakai pendeta untuk menyampaikannya. Yang pasti, suara Allah tak berlawanan dengan Alkitab. Jadi, cintailah Firman Nya, baca dan gali, supaya kita tidak terperdaya.

 

See Also

jQuery Slider
Top