PENDETA, POLITIK, PELAYAN

Author : Pdt Bigman Sirait | Sun, 20 July 2014 - 13:55 | View : 4126

Menapak tilas pelayanan Mikha bin Yimla, sang nabi yang sendirian karena mengatakan kebenaran, sangatlah menarik. Dalam rencana penyerbuan raja Aram untuk merebut Ramot Gilead, Mikha menyampaikan pesan Tuhan secara utuh, tanpa selubung pesan atau keinginan pribadinya. Kisah yang tercatat di 1 Raja 22, menampilkan sosok lain yaitu nabi istana Zedekia, yang bersama nabi lainnya berjumlah 400 nabi. Ditanya pesan Tuhan, kelompok nabi Zedekia bernubuat sejalan dengan keinginan Ahab raja Israel, untuk berkoalisi dengan Yosafat raja Yehuda, maju bertempur melawan Aram. Empat ratus nabi, sudah tentu menjadi legalitas yang kuat untuk menyatakan “kebenaran”.

Tampil sendirian, Mikha yang dipanggil keistana Ahab datang dan menyampaikan pesan Tuhan yang berbeda. Majulah teratur kata Mikha, tapi kalian akan pulang tercerai berai. Ucapan Mikha tak disukai raja karena berbeda arah. Ada legalitas 400 nabi dibawah kepemimpinan Zedekia. Mikha tak surut dalam menyatakan kebenaran sekalipun berhadapan dengan 400 nabi istana. Zedekia maju menghampiri Mikha, menamparnya. Ah, sungguh kasar sekali! Bagi Zedekia, Mikha tak santun dihadapan raja, dan tamparannya adalah usaha keras menjadi perhatian raja. Zedekia bernubuat sesuai keinginan raja, sementara Mikha sesuai keinginan Tuhan.

Tujuan politik Ahab mendapat legalitas, dan mereka maju bertempur. Pesan Tuhan lewat Mikha mereka abaikan. Apa sebenarnya maksud para raja ini bertanya kehendak Allah? Tapi mengabaikan Mikha, sebaliknya mendengar Zedekia yang sesuai agenda politik mereka. Sejatinya Ahab, juga Yosafat, tak pernah sungguh-sungguh mau tahu kehendak Allah. Mereka hanya akal-akalan dalam menegakkan kebenaran. Pertempuran yang tampaknya rohani itu, lengkap dengan legalitas 400 nabi, sepenuhnya palsu. Simbiosis mutualistis, raja mendapat stempel rohani untuk bertempur, sementara para nabi menikmati sepenuhnya kenikmatan fasilitas kerajaan.

Sangat jelas, sejak dulu kala, ribuan tahun sebelum Kristus, agama bermain api dalam kepalsuaan yang menyedihkan. Mayoritas nabi, imam, adalah penggila nikmat dunia. Sementara nabi, imam yang benar, selalu tersingkir, sulit hidupnya, akrab dengan penjara dan aniaya. Mereka menjadi minoritas karena imannya, melayani melawan arus kepalsuan. Pantas tak banyak yang ingin benar sepenuhnya. Yang palsu, yang nikmat, panjang penggemarnya. Ya, Zedekia dan kawan kawannya.

Nabi, imam, adalah jabatan rohani yang dengan mudah bisa dipolitisasi untuk kepentingan penguasa. Berbicara atas nama Allah, untuk kepentingan raja. Umat tak berdaya, mereka harus setuju, mengikut bagai kerbau dicocok hidungnya. Melawan itu berarti pengasingan. Celakanya, kebanyakan umat hanya menjadi penggembira agama. Mereka mencari aman dan nyamannya, tak rela susah. Sedikit yang rela berjuang menjaga kesungguhan imannya, menjadi umat yang sejati. Dengan segera terlihat perbedaan kualifikasi, baik nabi, iman yang benar dan berbayar, juga umat yang sekedar rajin ritual tapi tak rela membayar harga hidup benar. Jadi, nabi, iman, belum tentu pelayan Tuhan. Sementara pelayan Tuhan bisa jadi dia berjabatan nabi atau imam. Begitu juga umat beragama, belum tentu pelayan Tuhan, bisa jadi mereka hanya pelayan kekuasaan. Tapi, pelayan Tuhan pasti umat yang berkualitas, sejati.

Semua kita pelayan Tuhan, dengan berbagai jabatan yang Tuhan percayakan. Hati-hati terhadap jabatan karena bisa menipu. Jadi pekalah terhadap buah kehidupan karena itulah ukuran keimanan. Bukan kuantitas (jemaat banyak, gedung gereja besar), tapi kualitas (pengenalan akan Tuhan, iman yang teruji, dan moral yang terpuji). Yesus Kristus, dengan tegas berkata kepada para murid Nya, bahwa jika hidup keagamaan mereka tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak layak masuk kedalam Kerajaan Surga (Matius 5:20). Dan, kebenaran beragama itu akan tampak dalam buah kehidupan, iman dengan perbuatan. Juga penguasaan diri sehingga tak jadi pecinta uang, yang mengukur keberhasilan pelayanan dengan jumlah penerimaan materi. Dan, tentu saja tak munafik seperti Farisi yang rajin menyebut nama Tuhan, namun kualitas kehidupannya sendiri rusak.

Politik sejatinya bukankah barang haram. Tujuannya mulia, yaitu untuk membangun kesejahteraan rakyat. Semuanya diatur dalam tatanan indah, pembuat UU (legislatif), pelaksana mandat (Eksekutif), dan pengawas adil (Yudikatif). Namun, dalam pelaksanaannya politik seringkali dijadikan alat untuk mensejahterakan diri pribadi, atau kelompok. Permainan jorok yang menjijikkan, yang sering membuat orang salah menilai, dan menganggap politik itu najis. Banyak yang lupa, bahwa gereja juga bisa jorok, bahkan lebih najis dari politik. Ingat, keputusan rapat para ahli Taurat yang membuat Yesus Kristus tersalib, tanpa salah. Bahkan kafir seperti Pilatus juga mengatakan Yesus tak bersalah, dan tak bisa dihukum. Tapi rohaniawan yang mabuk kekuasaan dan kebendaan, yang tertusuk karena dikritik dan ditelanjangi Yesus Kristus, gelap mata dengan satu tekad, hukum mati, salibkan Dia. Desakan para pemimpin agama ini malah mengalahkan keputusan politis Pilatus yang hendak membebaskan Yesus Kristus. Siapa yang lebih jahat? Tak sulit menjawabnya, sekalipun mungkin susah mengucapkannya. Maklum, agama seringkali dijadikan baju suci atas perilaku busuk.

Pendeta, Politik, Pelayan, harus menjadi terang benderang dipahami umat, agar tak tertipu atas nama; Demi kebaikan bangsa. Tak lagi melahap kata Tuhan berkata pada saya, atau saya melihat apa yang menjadi kehendak Allah. Dibalik semuanya tak lebih, tak kurang, hanyalah tumpukan keuntungan. Pemimpin agama menambah pundi kuasa dan materi, sementara umat hanya jadi kuda tunggangan. Dari masa kemasa, realita ini terus bergulir, hanya pemainnya yang berganti. Pendiri Saksi Yehova yang berurusan dengan hukum. Pendiri Mormon dengan poligami tak terkendali. Tapi juga tak sedikit pendeta top di Amerika yang masuk penjara. Ada yang digugat cerai istri sendiri. Penggelapan uang gereja untuk main saham dan kalah, di Korea. Dan masih dalam proses, adalah skandal keuangan oleh pendeta di Singapura. Lalu, tak sedikit di Indonesia pendeta yang merangkap politisi, atau mungkin sebaliknya. Pendeta yang seharusnya panggilan khusus, seperti Lewi dikhususkan dari antara 12 suku, kini terkontaminasi dengan berbagai kepentingan. Tak jelas lagi perbedaan pendeta, polititisi, pengusaha, atau pelayan? Tampaknya tak lagi ada kebanggaan pada kependetaan sebagai penyampai suara kebenaran, sebagai pelayan Tuhan, karena sebaliknya, justru banyak yang menjadi “kuda tunggangan” politisi atau pengusaha hitam. Pendeta tak boleh diam, dia harus menyuarakan kebenaran, dan tak mungkin netral, Pendeta harus menegakkan keadilan.

Diera modern ini gereja semakin dituntut untuk tak gagap menghadapi perubahan jaman. Gereja harus fasih terhadap isu keadilan, malpraktek politik, pelanggaran HAM, kemiskinan, penyelewangan ajaran, dan degradasi moral yang menukik tajam. Belum lagi isu ekologi, dan berbagai isu lainnya. Gereja harus mampu menjadi agen kebenaran dan menterjemahkan pesan Tuhan sesuai konteks yang berjalan. Jika tidak, gereja akan terbawa arus dan menjadi alat penguasa, baik politik, maupun ekonomi.

Akhirnya marilah kita semua menjadi Pelayan Tuhan yang benar, entah jabatan kita pendeta, politisi, pengusaha, pekerja, seperti kata Rasul Paulus di Roma 12:1: Persembahkanlah tubuhmu (seluruh aktifitas kita), sebagai persembahan yang hidup, kudus, berkenan kepada Allah, itulah ibadah yang sesungguhnya. Bukan sekedar ritual di gereja, tapi aktualisasi dikeseharian.

Selamat menemukan diri sedang beribadah dengan benar.

See Also

jQuery Slider
Top