Gereja Dan Politik, Atau Berpolitik?

Author : Pdt Bigman Sirait | Tue, 5 August 2014 - 11:48 | View : 1934

Follow Twitter @bigmansirait

Syalom Pak Bigman
 
Saya bersyukur atas kehadiran bapak sebagai Hamba Tuhan di
dunia politik, sehingga memberikan arahan yang sebenarnya kepada dunia, bagaimana berpolitik yang benar. Tetapi yang saya takutkan banyak gereja sekarang telah  menjadi buta, mereka begitu mahir memberikan pandangan kepada para politisi negara, tetapi mereka sendiripun lupa atau bahkan tutup mata, bahwa di dalam Gereja pun sudah terjadi permainan politik  (Church politik), dari tingkatan Jemaat, majelis Gereja, bahkan sampai pada tataran para Hamba Tuhan sekalipun. Bagaimana tanggapan bapak, sekaligus sebagai Gembala  dalam menanggapi fenomena Church politik ini?
 
Hormat saya
 
Effendi Nalapraya - Jakarta

JAWABAN

Yang kekasih di dalam Kristus, sdr. Efendi, sebuah pertanyaan yang kontekstual dan relevan buat kita dalam berbangsa dan bernegara. Apakah soal politik diulas khusus di dalam Alkitab? Jelas tidak! Apakah ada tersirat? Jelas iya! Di sinilah pentingnya kehati-hatian dalam memahami Alkitab, dalam berbagai konteks. Bagaimana catatan Alkitab tentang politik? Namun, sebelum kita lebih dalam soal ini, sebaiknya kita rumuskan dulu apa yang dimaksud dengan politik.
Politik adalah pemahaman, perumusan, dan pengelolaan negara, yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Di sana diatur pembagian dan pendistribusian kekuasaan secara berimbang dan sesuai keadaannya, untuk menjamin hak dan kewajiban setiap warga negara. Semua ketentuan yang ada dibakukan dalam UUD, UU, Keppres, PERDA. Semua peraturan terikat kepada ketentuan tertinggi yaitu UUD, artinya tidak ada peraturan yang keluar dari UUD. Indonesia menganut sistem Presidensial, dan Trias Politika (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif) adalah lembaga negara yang saling mengawasi. Ini penting agar pelaksanaan mandat rakyat dilakukan sebagaimana mestinya.
Dalam gereja, istilah yang dipakai adalah siasat gereja, yaitu penerapan tata tertib gereja yang berlaku. Istilah politik kurang tepat, walaupun kegiatannya seperti di politik, “saling tanding”.
Siasat gereja adalah penegakan hukum gereja oleh majelis jemaat atas pelanggaran oleh jemaat. Sebaliknya, jemaat dapat juga mengadukan pelanggaran (peraturan, moral, etika) oleh anggota majelis jemaat (termasuk didalamnya pendeta). Ini ada di semua gereja, namun bentuknya berbeda, tergantung pola pemerintahan gereja yang ada di denominasi gereja. Ada
gereja yang pendetanya bisa diadukan atas pelanggaran, tetapi ada juga pendeta yang tak tersentuh oleh peraturan apapun, karena dia menjadi pendiri, gembala, sekaligus “pemilik gereja”. Suka atau tidak, sistim pemerintahan di tiap gereja harus dipahami baik oleh umat untuk menentukan sikap dalam berjemaat. Ini perlu untuk menghindari keributan yang bisa jadi saling menyakiti.
Dalam konteks gereja dan negara, maka gereja sebagai institusi jelas tidak boleh berpolitik. Tidak boleh ada edaran mengatasnamakan sebuah institusi gereja, atau kampanye resmi menggunakan mimbar gereja. Jemaat, di tiap gereja pasti memiliki pandangan tersendiri dalam berpolitik dan itu sah dan dijamin UU. Keterlibatan institusi bisa jadi pemaksaan kehendak yang melanggar hak jemaat sebagai warga negara. Namun disisi lain, gereja sebagai institusi tidak boleh abai dalam memberi pendidikan politik, sehingga umat melek politik. Tapi dalam membuat putusan tiap pribadi umat mandiri, begitu juga pendeta. Pendeta yang memilih masuk partai politik, dan menjadi anggota, semestinya memisahkan diri dari institusi gereja (mengundurkan diri). Sementara tiap pendeta, sebagai pribadi, punya hak bersikap dan memilih yang mandiri.
Kembali kepada isu “berpolitik” dalam gereja. Yang sesungguhnya terjadi adalah “kegilaan” pada kekuasaan, kenikmatan fasilitas, yang berujung pada tumpukan uang. Tuhan Yesus sendiri pernah berkata; Tidak mungkin engkau mengabdi kepada dua tuan. Manusia harus memilih, Allah atau mamon (Lukas 16:13). Dan ternyata, dengan mulutnya manusia menyebut nama Allah namun hatinya terikat pada mamon. Maka tidak mengherankan jika di gereja sering terjadi pertikaian (“berpolitik”), bahkan berujung pada perpecahan yang menyedihkan. Paulus mengingatkan Timotius bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan (1 Tim 6:10). Persahabatan yang cukup lama bisa rusak, orangtua anak saling menggugat, gembala dan pengurus saling menghujat. Ini adalah realita kemunafikan dalam pelayanan di gereja, maupun lembaga Kristen lainnya, yang memang sangat mudah kita lihat. Diberbagai media Kristen anda bisa membacanya. Untuk itu jelilah!
Pada akhirnya, haruslah kita sadari bahwa hakekat gereja adalah persekutuan anggota tubuh Kristus, yang kepala dan pemilkinya adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Tujuan gereja adalah memuliakan Tuhan, dengan memberitakan Injil, dan mengajarakan apa yang diajarkan Nya. Dan semua itu harus terbukti dalam perbuatan yang terbuka, terbaca, terasa, terukur dan teruji. Ingat, Yesus berkata; Tidak semua orang yang menyebut nama Ku Tuhan akan masuk surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa Ku. Tidak yang bernubuat, membuat mujijat, mengusir setan (Matius 7:21-23).
Jadi sesungguhnya, tidaklah sulit mengenali gereja, menganalisa, apakah gereja masih setia pada panggilan Kristus? Atau hanya jadi alat legalitas untuk mendapatkan kekuasaan yang ujung-ujungnya adalah keuntungan.
Mudah mengatakan kebenaran, tapi tidak tentu melakukannya. Akhirnya, Effendy yang dikasihi Tuhan, selamat mengamati dan tolonglah jemaat lain memahaminya. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

See Also

jQuery Slider
Top