Mengenal Kebenaran Sejati

Author : Pdt Bigman Sirait | Mon, 2 November 2015 - 10:10 | View : 1787
kebenaran.jpg

Follow     @bigmansirait

“Kebenaran adalah kebenaran pada dirinya, tidak tergantung pada perilaku orang yang mengatakannya. Kebenaran adalah benar pada dirinya, tidak membutuhkan dukungan dari siapa pun supaya dia menjadi benar, karena dia sudah benar pada dirinya. Alkitab benar bukan karena ada orang yang mengatakannya benar. Ada banyak orang Kristen percaya dan mengatakan bahwa Alkitab itu benar, tapi bukan oleh karena pengakuan itu maka Alkitab menjadi benar. Alkitab itu benar, karena memang benar adanya. Firman Allah itu benar, karena memang pada dirinya benar.”
Demikian salah satu point penting soal “kebenaran” yang kita coba telusuri hakikatnya, supaya tidak salah mengartikan.  Menghindari agar jangan sampai kita membangun kebenaran itu  “menurut kebenaran saya” atau “menurut interpretasi saya”. Karena bisa saja ada seorang pendeta bisa berkhotbah benar, tetapi hidupnya belum tentu benar. Atau sebaliknya, pendeta itu hidupnya benar tetapi ajarannya tidak benar. Di sini terlihat jelas, bahwa kebenaran adalah kebenaran pada dirinya, tidak bergantung pada siapa yang mengatakan atau mengkhotbahkannya.
Kita dapat melihat lebih dekat tentang topik ini dari pembicaraan antara Yesus dengan seorang perempuan Samaria di sebuah bukit sebagai berikut:
“Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah. Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepadaku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian. Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes: 4- 20 – 24)
Seperti sudah diketahui, bagi orang-orang Israel, Yerusalem adalah tempat yang memiliki arti sangat penting, baik bagi suku itu sendiri, khususnya dalam peribadatan mereka. Sama halnya dengan orang Samaria, dalam hal ini diwakili oleh perempuan Samaria, yang menganggap penting gunung atau tempat dia sedang berbincang dengan Yesus.  Sebab di gunung itu Samaria menyembah Allah. Menanggapi pernyataan tersebut Yesus menyatakan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan pandangan umum yang ada, baik versi Israel pun Samaria.  Yesus tidak setuju dengan dua versi itu, mengoreksi pendapat perempuan Samaria itu.  “Kalau mau menyembah Bapa, tempatnya bukan di gunung ini, bukan pula di Yerusalem.” Dalam ketidaksetujuan Yesus ini terdapat pengetahuan besar yang perlu ditilik lebih dalam lagi.  
Siapa saja boleh berpendapat tentang apapun juga, termasuk tentang makna penting suatu daerah atau wilayah bagi bangsa dan sukunya.  Boleh saja sekelompok rabi dan orang Yahudi lain berpendapat bahwa Yerusalem adalah tempat Tuhan. Dengan alasan itu mereka menggunakan tempat itu untuk menyembah Allah. Begitu juga dengan orang Samaria, boleh saja berpendapat  bahwa gunung tempat mereka menyembah itulah yang paling baik atau benar. Tetapi Yesus memberikan pengertian yang amat penting, yang lebih mendalam, tidak dibatasi oleh tempat atau ruang (materi).  Pengertian Yesus lebih mengaju pada sifat  mendasar, makna sejatinya.  “Bahwa bukan di gunung, bukan pula di Yerusalem tempat menyembah Allah.”  Sebab Allah itu Roh adanya.  Dia tidak bisa  dikurung atau dibatasi oleh suatu tempat, ruang, pun waktu.  Allah adalah Roh, karena itu Dia bisa hadir di mana saja. Tidak memerlukan hakikat atau keberadaan fisik (materi) untuk bisa menampung-Nya. Dia juga tidak butuh sebuah kota yang bernama Yerusalem atau bukit sebagai tempat bersemayam. Dia tidak terikat oleh waktu. Dia melampaui  semuanya, mengatasi semuanya.  
Allah yang Roh Adanya itu, Sang Kebenaran sejati itu, tidak memerlukan pengakuan dari orang-orang tentang apakah dia benar, karena kebenaran itu memang sudah benar pada dirinya. Kebenaran bisa ada dan pergi ke mana saja. Untuk mengenal Kebenaran sejati tak ada jalan lain kecuali mengenal Sang Kebenaran Allah Bapa itu sendiri.  Untuk mengenal Dia, orang hanya bisa mengenal  di dalam roh dan kebenaran.
Yesus pernah berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14: 6).  Di sini dengan jelas Yesus berkata bahwa Dia itu adalah “kebenaran”, sang firman yang hidup itu.  Dia bukan saja sang kebenaran itu sendiri, tetapi dia juga yang membenarkan, membuat sesuatu yang tidak benar menjadi benar, membuat orang yang tidak benar menjadi benar. Sebab kebenaran yang benar ada pada diri-Nya. Kebenaran yang sejati itu ada di diri Yesus.  Sehingga menifestasi kebenaran itu sangat aktual, bukan sekadar teori.
Anda ingin mengenal kebenaran sejati?  Untuk mengenal Kebenaran orang perlu berani menaklukkan diri, bukan bergagah diri dengan berdiri di depan kebenaran lalu mencoba membedah kebenaran itu menurut selera dan memberikan titik point: mana yang penting dan tidak, mana yang benar atau tidak.  Sebab barang siapa mau melakukan ini, dia akan gagal, tidak akan mendapatkan apa-apa. Pandang Yesus, Anda akan tahu bahwa Dia-lah kebenaran sejati. “…Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa...” (Yohannes 14: 8 ) Maksudnya, jika ingin melihat kebenaran sejati itu, lihatlah Yesus, maka kita sudah melihat kebenaran itu. Dengan mendengarkan kata-kata Yesus, maka kita sudah mendengarkan kebenaran.  Itulah adalah suatu hal yang sangat luar biasa, yang diajarkan Yesus kepada murid-muridnya, dan perlu kita pikirkan bersama-sama.  

?(disarikan kembali oleh Slawi)

See Also

jQuery Slider
Top