Mata Hati

Akankah Mimpi Perubahan Itu Menjadi Kenyataan?

Author : Pdt Bigman Sirait |
Perubahan , kini menjadi kata yang sangat populer di Indonesia. Kata itulah yang diyakini banyak orang telah menolong calon presiden (capres) Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, yang kemudian lebih ngetop dengan inisial SBY-JK, hampir pasti memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden di republik ini.

Perubahan , ternyata kata yang jauh lebih ampuh ketimbang ayat-ayat suci yang dicomot peserta pemilu lainnya. Atau kata-kata retorika seperti: sudah terbukti , yang merupakan duplikasi iklan; kami memberi bukti bukan janji . Partai-partai yang berhasil merebut mayoritas kursi parlemen dan bersekutu di bawah naungan bendera koalisi kebangsaan, untuk memenangkan pasangan capres Megawati-Muzadi, ternyata kecolongan: SBY-JK menang telak! Kenyataan politik, yakni kemenangan SBY-JK, telah pula membuktikan macetnya mesin politik pada era pemilihan presiden (pilpres) langsung ini. Para pelaku money politics juga berhasil diperdayai para pemilih yang bersemboyan: terima uangnya, pilih partai atau capres lain. Begitu pula suara-suara, yang katanya turun dari surga, rubuh sudah.

Kenyataan itu sendiri sudah merupakan perubahan yang menjanjikan untuk menyongsong masa depan bagi kehidupan demokrasi di bumi pertiwi ini. Perubahan lainnya adalah kenyataan bahwa partai dengan ikon-ikon agama tidak lagi laku dijual, karena agama memang tidak pantas dipolitisir. Agama kok di-partai-kan? Hasilnya, semua partai dengan ikon-ikon agama itu rontok. Rakyat pemilih bertambah bijak. Tetapi tragisnya, para elitnya justru berbondong-bondong berkoalisi dengan harapan mendapat jatah kursi. Dulu, katanya berbeda visi sehingga perlu membuat partai. Tapi kini mendadak memiliki visi yang sama, dan layak koalisi. Ah, kursi itu memang menggiurkan.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah: apakah perubahan yang dijanjikan SBY-JK akan menjadi perubahan yang kita nantikan? Tentu saja ini masih merupakan penantian, mengingat pengumuman pemenang pilpres secara resmi masih beberapa hari lagi (5 Oktober 2004). Dan jika tidak ada aral melintang, presiden baru itu dilantik 20 Oktober 2004. Tanggal itu akan menjadi tanggal yang bersejarah, sebab yang dilantik adalah presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Namun sesudah itu, semua mata harus mengawasi gerak langkah SBY-JK. Untuk para pemilih SBY-JK jangan terjebak eforia sehingga alpa mengamati SBY-JK.

Mengantar SBY-JK ke Istana Negara hanyalah sebuah awal, bukan akhir perjuangan. Jangan mendukung SBY-JK secara gelap mata. Dukunglah pasangan ini dengan bijak. Untuk itu, perlu menolong mereka agar mampu merealisasikan perubahan yang didengungkannya, dan yang kita dambakan bersama. Mari kita bantu mereka dengan cara mengawasi bahkan menggugat jika dibutuhkan. Keberanian mengkritisi pilihan sendiri adalah cara yang pas untuk mengawal SBY-JK agar bekerja efisien, efektif, berani dan bersih.

Akankah mimpi perubahan itu menjadi kenyataan? Jawabannya bukan hanya ada pada SBY-JK, tetapi kita semua rakyat Indonesia. Jadi, mulai sekarang janganlah terlalu menyanjung-nyanjung kemenangan SBY-JK, melainkan memberi per-ingatan dini bahwa di sini, kita rakyat Indonesia akan senantiasa meng-kritisi langkah dan kebijakan mereka.

Untuk SBY-JK, kemenangan ini bukan usaha Anda berdua semata, bahkan juga bukan kehebatan Partai Demokrat, melainkan pertaruhan keper-cayaan rakyat yang mengharapkan perubahan, sesuai yang Anda kumandangkan itu. Jadi jangan lupa diri, karena rakyat pasti akan menagih janji. Tagihan sudah dikirimkan, giliran Anda melunasi, atau rakyat akan berbalik meng-gugat hak untuk perubahan yang dipercayakan kepada Anda berdua itu.

Tidak ada kata gagal untuk sebuah perubahan, sekalipun mungkin Anda tidak bisa maksimal menggapainya. Namun, untuk itu pun rakyat perlu penjelasan, jangan melempar kesalahan. Parlemen yang mungkin mengganggu , jangan dijadikan alasan. Jika Anda bekerja secara berani dan bersih, parlemen pasti tidak dapat menghalangi niat baik Anda. Jika toh, parlemen memper-sulit, rakyat siap bahu-membahu menggugat mereka yang meng-hadang berhembusnya angin peru-bahan bagi kehidupan bangsa.

Sekali lagi, ingat! rakyat menanti perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Rakyat mendambakan penegakan supremasi hukum atas penyelundup yang kasusnya selalu redup, koruptor yang kotor tetapi tetap berkantor, dan preman berdasi yang tidak punya hati nurani dan menjungkirbalikkan nilai. Rakyat juga menginginkan persamaan hak tanpa diskriminasi gender, mayoritas-minoritas dalam suku, agama atau ras, karena sebagai bangsa Indonesia kita satu dan berdarah sama merah putih. Rakyat rindu perekonomian yang merata dalam kesempatan, pendidikan murah yang mungkin dicapai semua orang, dan tentu saja keamanan yang beradab, jangan biadab. Rakyat juga butuh jaminan kebebasan berpendapat tanpa rasa takut disekap. Tentu saja kebebasan yang bertanggung jawab.

Dan sudah barang tentu Pancasila harus dihidupkan sebagai falsafah bangsa, bukan dipajang, atau sekedar hafalan anak anak sekolah dasar. Amanat yang jelas yang ada di undang-undang dasar untuk dilaksanakan, demi hak rakyat dan bukan konsumsi perdebatan anggota dewan. Jadi, tidak banyak yang baru, hanya minta yang dulu ada dikembalikan dan yang belum ada ditambahkan. Mudahkan sebuah perubahan, asal ada kemauan untuk merubah. Akhirnya, selamat berbuah untuk perubahan.

Group

Top