Mata Hati

DIA TURUN, DIA NAIK

Author : Pdt Bigman Sirait | Fri, 1 June 2012 - 15:07 | visits : 1506
Tags : Artikel Kenaikan

Pdt. Bigman Sirait

KENAIKAN Yesus Kristus ke surga selalu menjadi kontroversi tak sederhana di sepanjang masa. Bahkan soal kebangkitan-Nya pun selalu menjadi debat yang tak kunjung usai. Tak mudah menalar apa yang terjadi, namun bukan berarti tak mungkin. Yesus Kristus bukanlah manusia yang menjadi Tuhan, melainkan sebaliknya, Tuhan yang menjadi manusia (Filipi 2:6-8).
Dengan sistimatik, Paulus sebagai Rasul mengurai realita panggilan atas orang percaya. Kepada jemaat di Efesus Paulus mengingatkan, betapa orang percaya telah menjadi orang pilihan, bahkan sejak kekekalan (Efesus 1:3-14). Pilihan yang dikerjakan oleh Allah yang kekal, atas dasar kasih Nya yang besar. Dalam merealisasikan rencana agung-Nya, DIA telah turun ke bumi, menjadi sama dengan kita, sebagai manusia. Dan, dalam kemanusian itu, DIA memilih untuk menjadi hamba, dan bukan jabatan raja. Sebuah pilihan yang mencengangkan. Pilihan yang sangat bertentangan dengan gairah kemanusiaan.
Sampai di sini saja manusia tak mampu memahami apa yang disebut sebagai kasih Allah. Mengapa hingga DIA melakukan hal yang sulit dinalar oleh manusia? Apalagi kematian Yesus Kristus yang disebut Tuhan itu. Bagaimana Tuhan bisa mati? Semua bermuara pada ketidaktahuan manusia yang utuh tentang DIA. DIA yang adalah manusia, tetapi juga Allah. Namun Allah, yang mengosongkan diri-Nya, yang membatasi diri-Nya, dengan melepas atribut ke Allahan-Nya. Membuat diri terbatas, menjadi sangat manusiawi, namun juga tetap Illahi. DIA mungkin mati, namun juga mungkin bangkit. Dan, itulah yang terjadi kemudian. DIA telah ada di dalam dunia dengan sejuta maha karya. Semua dilakukan-Nya sebagai wujud kasih-Nya, yang berpuncak di kematian-Nya. Adakah yang lebih hebat dari DIA? Jelas tidak. Dan kehebatan-Nya yang maha itu pula yang membuat manusia tak pernah tuntas mengenal DIA.
Selalu ada kesalahpahaman di sepanjang sejarah. Dan semua ini bisa dimengerti.  Namun kesalahan bukan pada DIA yang maha, melainkan keterbatasan manusia. Paulus berulangkali, diberbagai kesem-patan, menjelaskan kepada umat. Juga membantah para penyanggah yang seringkali tendensius terhadap kebenaran pemberitaan Yesus Kristus. IA yang telah turun, IA juga yang telah naik, jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu (Efesus 4:19). Yesus Kristus yang telah turun itu telah direkam oleh sejarah. Lebih dari cukup bahan tentang DIA, berbanding catatan orang sejaman-Nya. Dan juga, terlalu panjang perjalanan waktu yang menguji kebenaran tentang DIA. Selalu ada pembantah, namun kebenaran Nya tak pernah melemah, apalagi sirna.
 Yesus Kristus turun ke dunia dengan menjadi manusia, artinya, bukan sekadar cerita yang melegenda. Paulus berbicara tentang fakta. Begitu juga dengan kenaikan-Nya. Yesus Kristus turun, bahkan kedunia paling bawah, dunia orang mati. Dan DIA naik, bahkan ke tempat paling tinggi, surga mulia. Artinya, senyata (faktual) DIA turun kedunia, tinggal bersama dengan manusia, sebagai manusia yang seutuhnya. Maka senyata itulah kenaikan-Nya, naik ke surga dengan disaksikan belasan pasang mata.
 Paulus mengingatkan umat akan sebuah kenyataan yang faktual, sekaligus peristiwa yang supranatural. Tak mudah dinalar, namun mata tak dapat ditipu. Fakta yang terlihat adalah kebenaran yang aktual. Soal bagaimana menalar yang supranatural, ini menjadi berkah tersendiri. Peristiwa ini berjalan ajeg, tak melompat. Semua berada dalam alur kronologi sejarah.
DIA yang telah naik itu menjadi sumber pengharapan akan kehidupan di balik kesementaraan. Hidup bukan lagi tanpa kepastian tujuan. Hidup telah menjadi sebuah keniscayaan akan harapan sempurna. Ya, sempurna surge bukan sekadar cerita tentang surga. Karena DIA yang turun itu, turun dari atas, telah naik kembali, naik keatas, ke tempat dari mana DIA datang. Bukan tempat yang asing, karena memang surga adalah tempat asal-Nya, di ke Illahian-Nya, sebelum DIA mengosongkan diri-Nya.
Kini, di sini, di era ini, kita sebagai umat bergerak dalam kehidupan. Adakah kehidupan umat digerakkan oleh kuasa dan gairah kenaikan Yesus Kristus. Kenaikan ke tempat yang tertinggi, yang seharusnya menginspirasi diri tiap pribadi. Kenaikan yang telah menerobos harapan yang terbatas, di sini, di bumi. Kini telah menjadi harapan untuk ke tempat yang tertinggi, surga mulia. Sebuah kebenaran yang sangat menguat-kan. Dan, sudah se-mestinya kehidupan orang percaya ter-arah, tanpa gentar menjalani kehidupan di dunia dengan segala pergumulan di dalamnya.
Semakin menua usia dunia, semakin tampak keras wajah kejahatan. Degradsi moral meluncur ta-jam, menghantam setiap sendi kehidupan. Gereja pun tak luput dari sepak terjang kejahatan. Lihatlah maraknya kekerasan yang bisa berujung terpisahnya jiwa dari raga. Lalu korupsi yang datang silih berganti dengan pemain baru. Sementara yang lama tak pernah berhenti. Rasa malu semakin terpinggirkan, karena kejahatan dianggap sebagai kewajaran hidup dimasa kini. Berbagai kerusakan moral terekam jelas di media, dan menjadi ajang diskusi di warung kopi. Kini, persoalan ini tak sekedar pembicaraan elit, namun buruh pun ramai membicarakannya.
Berkeringat buruh mencari sesuap nasi. Berjibaku dengan kerasnya kompetisi dalam bertahan hidup. Sepeser demi sepeser dicari, tapi tak pernah bisa ditabung, karena habis ditelan kebutuhan hidup hari-hari. Bahkan itu pun harus dibantu dengan membuat hutang baru. Sementara para koruptor tak malu tampil di media. Mengaku suci, sekalipun penuh gelimang dosa. Berkelit dengan sejuta cara. Menyuap kesana-sini untuk membeli nama bersih. Bagaimana gereja menyikapi realita ini? Tak sederhana bukan? Maju melawan bagaikan Daud menantang Goliat. Namun tak seperti kisah dulu, ini di bawa ke atas panggung, dimana juri telah dibeli oleh pemilik rupiah. Goliat tak sekadar kuat tenaganya, tapi juga kuat duitnya.
Inilah gambaran kehidupan yang dihadapi gereja. Namun gereja tak perlu gentar. Gereja harus berani menabuh genderang perang melawan kejahatan. Bukan perang fisik, melainkan melawan roh-roh di udara yang semakin menggila. Gereja harus maju, sekalipun berisiko kemungkinan kehilangan segalanya. Semangat kenaikan seharusnya meneguhkan. Karena orang percaya tak lagi hanya bangkit, tapi naik kesurga. Kekuatan pengharapan yang ekstra, yang menjadi modal, untuk mengalahkan kejahatan yang terpola. Kejahatan yang sering berjubah agama, dengan senyumannya yang mematikan. Orang percaya tak boleh terperdaya.
Berperang melawan dosa dengan semangat kenaikan adalah kemenangan pasti. Sepasti DIA telah turun, dan sepasti DIA telah naik, sepasti itu pula pengharapan kita untuk menang. Mari memeriksa diri, adakah semangat tempur dan perisai telah dilengkapi. Selamat naik kepermukaan kehidupan. Jangan lagi tenggelam tak kelihatan. Cukup sudah ibadah, kini waktunya menggarap dunia, karena itu juga ibadah, bahkan yang sesungguhnya. Selamat kuat dalam kenaikan Nya.

See also

jQuery Slider

Group

Top