Mata Hati

Sekali Merdeka Tetap Merdeka

Author : Pdt Bigman Sirait | Thu, 30 August 2012 - 14:59 | visits : 2013
Tags : Artikel Kebangsaan

Pdt. Bigman Sirait

Dalam kata ini terkandung semangat tinggi, tak ingin dijajah kembali. Sebuah semangat yang memang sudah semestinya ada pada  tiap pribadi anak negeri. Siapapun manusia di kolong langit ini pasti tak ingin hidup terjajah. Keterjajahan adalah ketiadaan rasa kemanusiaan. Penjajah merebut apa yang bukan haknya. Sementara yang terjajah, tertindas, kehilangan harga kemanusiaannya. Penjajahan adalah musuh bersama umat manusia. Karena itu, kemerdekaan adalah impian yang patut diwujudkan bersama oleh semua umat manusia. Hidup saling mengawasi agar senantiasa terhindar dari nafsu saling menguasai.
Di republik tercinta ini, Indonesia, kemerdekaan didapat dengan tumpahan keringat, darah, bahkan nyawa, yang tak terbilang banyaknya. Semua anak bangsa terpanggil berjuang untuk negeri tercinta. Bahu membahu, tak mengenal warna kulit, atau kesukuan. Semua menyatu dalam Negara republik Indonesia yang satu. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, bukan kecanggihan senjata yang menjadi kunci kemenangan, melainkan semangat juang yang luar biasa. Pantang mundur, apalagi menyerah. Merdeka atau mati, hanya itu pilihan yang tersedia. Semua, bersama, siap untuk merdeka. Pekikan kemerdekaan menggema disana sini, sangat menggugah rasa perjuangan. Kemerdekaan bukanlah barang murah, bahkan sebaliknya, tak terbeli. Karena itu sudah semestinya kita menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan cara yang bertanggungjawab dan penuh rasa syukur. Semua anak bangsa dituntut untuk menunjukkan hormat atas kemerdekaan yang diwariskan oleh para patriot bangsa.
Bukankah sangat menyedihkan, jika kita menyanyikan tentang kehebatan para pahlawan, namun hidup dalam sikap penakut. Menjadi pengecut yang selalu mencuci tangan, dan lari dari tanggungjawab yang semestinya diemban. Diperlukan mental pahlawan dalam mengisi kemerdekaan demi kesejahteraan seluruh anak bangsa. Seorang pemimpin harus selalu berada di garda depan, memimpin, dan bukan menyembunyikan diri dengan berbagai dalih. Pemimpin yang tak hanya berjuang membangun citra diri dengan kata-kata muluk, melainkan yang menyingsingkan lengan baju dan kerja keras. Kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, bukan penjilat yang mengorbankan kepentingan rakyat. Untuk itu, setiap anak bangsa digugat untuk tampil berani, dan menjadi motor perubahan demi masa depan yang lebih baik. Kemerdekaan hanya akan berharga jika diisi dengan cara yang berharga pula, seperti harga diri dan bayar harga.
Harga diri, sudah semestinya mewarnai hidup kita sebagai bangsa yang berjuang. Bangsa yang mendapatkan kemerdekaannya bukan dengan cuma-cuma. Harga diri yang mengajar kita untuk tak menjadi pecundang. Indonesia bukan kuli bangsa lain, siapapun itu. Tidak, Asia, Eropa, atau Amerika. Indonesia, adalah negara yang merdeka dan berdaulat. Tak hanya hanya itu, Indonesia juga memiliki harta yang lebih dari cukup untuk menghidupi anak negeri. Lihat hutannya, lautnya, buminya, bahkan hingga udaranya, amat sangat menjanjikan. Musim yang ramah, matahari dan bulan yang bersahabat. Indonesia memang sangat kaya, dan itu membuat kita punya harga diri yang tinggi. Namun ini bisa rusak jika pemimpinnya oportunis, dan tak memiliki harga diri, sehingga tak ada yang menyegani. Tapi kini di usianya yang ke 67, harga diri kita sebagai anak bangsa terusik oleh beberapa peristiwa. Digugatnya, batik, lagu, bahkan tarian, Indonesia oleh Malaysia. Begitu pula, perbatasan laut dilecehkan. Belum lagi soal TKI, hingga persoalan lainnya. Sayang Indonesia seperti kehilangan harga diri, dengan kecenderung pemerintah melakukan pembiaran. Berperang, tentu tidak, karena kita juga bukan bangsa yang haus darah. Tapi “pembiaran”, itu lebih gila, karena tak menunjukkan watak kebangsaan yang diwarnai oleh banyak jejak para pahlawan.
Dan, yang membuat kita tambah miris, ketika usia ibu pertiwi semakin meninggi, penegakan hukum sebagai citra utama bangsa yang memiliki harga diri, justru seperti kabur. Ada banyak kasus yang memalukan, bahkan menodai hidup keberagaman dalam keagamaan. Maka tak heran, jika orang lain memandang sebelah mata terhadap Negara kita. Jangankan bertetangga, berkeluarga pun kita tak mampu baik, disinilah harga diri tercabik. Ah, para pemimpin, ternyata, kebanyakan hanya bersilat lidah. Berkata bersih, tapi jorok dalam bertindak. Seakan bijaksana, namun sejatinya tak ada keberaniannya. Indonesiaku, terpuruk harga dirimu. Tentang harga diri, sebuah pepatah berkata: Lebih baik orang kecil tapi menjadi tuan, daripada bersama orang besar, tapi menjadi kuli.
Sementara bayar harga, menuntut keberanian berkorban demi kemajuan bangsa. Bayar harga, memberi apa yang dimiliki. Sayangnya banyak pemimpin justru memasang harga, mengambil untuk keuntungan dirinya. Berlomba menjabat untuk bisa mengembat, kata anak-anak muda. Ya, korupsi semakin menjadi-jadi. Hebatnya, yang terlibat justru yang dengan keras berkata “tidak” pada korupsi. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang besar, jika para pemimpin bukannya bayar harga, malah sebaliknya memasang harga. Kerusakan moral yang nyaris rubuh, namun di saat yang sama pemimpin masih saja mampu, tanpa malu, berbicara tentang masa depan yang menjanjikan. Selalu mengambil keuntungan dari tiap situasi yang bukan hasil keringatnya.
Membayar harga, adalah semangat berjuang tanpa pamrih, berbakti untuk negeri, seperti para pahlawan di medan juang. Mereka berjuang bukan untuk diri melainkan untuk anak negeri. Di era ini nyaris tak terlihat, pemimpin yang berjiwa negarawan, namun ada dalam barisan panjang para oportunis. Pemerintah, partai politik, sama-sama menukik dalam degradasi moral. Celakanya, agama juga mengalami hal yang sama. Bukannya membayar harga, seperti Yesus Kristus yang berkorban, sebaliknya memasang harga untuk menumpuk kekayaan diri. Gereja, atau paling tidak oknum pemimpinnya, terlibat skandal korupsi. Penggelapan yang memalukan, telah menjadi kenyataan, dan masuk dalam gugatan hukum. Ah, sedihnya, gereja yang seharusnya menjadi terang, malah menjadi batu sandungan. Sebuah tantangan bagi tiap orang percaya, yang beriman sejati.
Negara merdeka dari penjajahan bangsa asing, eh, malah terjajah oleh bangsa sendiri. Bahkan oleh para pemimpin yang berubah menjadi “drakula” penghisap bahagia rakyat. Semua dimanipulasi, rakyat dibuat susah. Sementara dalam konteks agama, orang berdosa yang sudah dimerdekakan, paling tidak itu pengakuan agama, ternyata tetap saja hidup dalam kuasa dosa. Dulu ke tempat berhala, kini kerumah ibadah, namun perilaku tetap sama, menipu. Isi dan bungkusnya sangat kontras. Karena itu patutlah kita bertanya, apakah kita sudah merdeka? Menggugat, agar tak semakin terjerat. Namun juga harus berani berjuang, menjadi orang yang jujur, mencintai kebenaran, dan berani hidup berbeda. Tak cinta harta, melainkan cinta sesama. Kemerdekaan sudah seharusnya diisi dengan cara bertanggung jawab. Menjadi pahlawan masa kini. Negara membutuhkan pemimpin yang berintegritas, satu antara kata dan laku. Dan gereja sebagai agen kebenaran seharusnya mampu menjadi model. Jangan lagi berbuat dosa, karena engkau sudah merdeka, kata Tuhan Yesus (Matius Yohanes 8:11, 34 ). Semoga kita juga, memang sudah merdeka dari dosa, dan hidup benar. Merdeka hidupku, merdeka bangsaku, bagimu pengabdianku!
 
 

See also

jQuery Slider

Group

Top